Penjualan Mobil RI Stagnasi, Daya Beli Anjlok hingga Mobil Bekas Jadi Penyebabnya!
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkapkan terjadi penjualan kendaraan bermotor roda empat atau mobil domestik mengalami stagnasi. Kondisi tersebut terjadi sejak 2016 hingga 2023, yakni hanya berkisar di angka 1 juta unit.
Berdasarkan data yang dipaparkan Plt Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Putu Juli Ardika, data penjualan mobil pada 2016 sebanyak 1,06 juta unit. Kemudian pada 2017 naik sedikit menjadi 1,07 juta unit.
Selanjutnya, pada 2018 penjualan mobil naik mencapai 1,15 juta unit, dan pada 2019 turun menjadi 1,03 juta unit. Berikutnya pada 2020 turun signifikan akibat pandemi Covid-19, yakni sebanyak 532.000 unit, dan pada 2021 industri otomotif sedikit mengalami kebangkitan dengan penjualan mobil sebanyak 887.000 unit.
Adapun pada 2022, industri otomotif semakin bertumbuh yang ditandai dengan penjualan mobil sebanyak 1,048 juta unit, dan pada 2023 mencapai 1,005 juta unit.
Baca Juga
Penjualan Mobil Astra (ASII) Juni 2024 Naik 6,3%, Merek Ini Laku Keras
"Kalau kita lihat penjualan dalam negeri memang belum sebagus tahun 2018, tetapi dari sisi produksinya sudah jauh lebih banyak daripada sebelum Covid-19," ucap Putu dalam diskusi di Kantor Kemenperin, Jakarta Selatan, Rabu (10/7/2024).
Putu pun mengungkapkan, penyebab dari stagnasi penjualan mobil di dalam negeri tersebut dikarenakan adanya kesenjangan antara harga kendaraan dengan pendapatan per kapita penduduk Indonesia. Kondisi itu menyebabkan daya beli masyarakat kian menurun.
"Ya kalau kita lihat, inflasi ya, kendaraan itu menjadi lebih mahal dari tahun 2014 ke 2023, itu perbandingannya dengan pendapatan, itu gap-nya makin besar. Dulu harga kendaraan dengan pendapatan masyarakat itu sekitar 15 juta, di tahun 2023 kemarin itu 30 juta," terangnya.
Selain daya beli masyarakat yang menurun, Putu menyebutkan penyebab lainnya yang membuat penjualan stagnasi adalah karena masyarakat yang tidak mampu membeli mobil baru, beralih ke mobil bekas.
"Kita bisa lihat itu di 2014, (sebanyak) 1,2 juta itu membeli kendaraan baru, hanya 500 ribu yang membeli kendaraan second. Nah 2023, ini 1 juta yang membeli kendaraan baru, nah yang lainnya itu 1,4 juta, ini transaksinya yang banyak terjadi di kendaraan second itu," tandas Putu.

