Industri Reksa Dana Alami Stagnasi, Ketua AMII Ungkap Penyebabnya
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Asosiasi Manajer Investasi Indonesia (AMII), Afifa, tidak memungkiri bahwa industri reksa dana Indonesia dalam beberapa tahun terakhir mengalami stagnasi. Menurutnya, ada dua faktor yang menyebabkan kesulitan para manajer investasi (MI).
Afifa memaparkan, pada tahun 2020 total asset under management (AUM) berada di angka Rp 835 triliun. Sedangkan pada 2023 mengalami penyusutan menjadi Rp 825 triliun. Namun, Afifa menyebut penurunan jumlah AUM ini terjadi bukan karena faktor pandemi Covid-19.
Pasalnya, pada tahun 2021 di mana pandemi Covid-19 masih terjadi, manajer investasi justru mengalami kejayaan. Bahkan sebenarnya AUM reksa dana tertinggi itu pada tahun 2021, yakni Rp 878 triliun.
Baca Juga
Terapkan Tiga Strategi Ini, STAR AM Bidik Tambahan AUM Rp 7 Triliun di 2024
“Memang banyak sekali kendala yang dihadapi oleh teman-teman MI. Yang pertama adalah kita tahu selama ini untuk obligasi kita mendapat tax benefit, tapi dicabut. Itu kejadiannya 2020-an ya. Yang kedua yaitu adanya PAYDI (Produk Asuransi Yang Dikaitkan Dengan Investasi),” ungkap Afifa dalam acara Investortrust-InfoVesta Best Mutual Fund Awards 2024 di Jakarta, Rabu, (27/3/2024).
Dijelaskan oleh Afifa, di PAYDI terdapat upaya untuk memindahkan atau meminta unit link agar investasinya tidak lagi reksa dana. Namun, ada pengecualian untuk obligasi pemerintah. Sedangkan di luar itu harus ke Kontrak Pengelola Dana (KPD) alias pindah kamar.
Chief Executive Officer Investortrust, Primus Dorimulu (kanan) memberikan cinderamata kepada Ketua Asosiasi Manajer Investasi Indonesia, Afifa (tengah) disaksikan oleh Direktur Infovesta Utama Parto Suwito (kiri) pada acara Investortrust-InfoVesta Best Mutual Fund Awards 2024 di Jakarta, Rabu, (27/3/2024). Foto: Investortrust/Elsid Arendra.
“Sebenarnya kalau buat MI secara total hanya berpindah, tapi sayangnya karena yang dikomunikasikan ke publik, yang di-share ke masyarakat, ke media itu hanya AUM reksa dana saja, jadi terkesan ada penurunan yang signifikan,” sebut Afifa.
Baca Juga
Afifa memaparkan penurunan AUM reksa dana dari tahun 2021 ke 2022 adalah sebesar Rp 73,5 triliun. Selain karena kehadiran PAYDI, faktor suku bunga juga disebutnya cukup mempengaruhi.
“Di tahun 2022-2023 itu mulai adanya tren suku bunga naik. Di 2020-2021 suku bunga turun. Pada saat itu MI menikmati peningkatan luar biasa, dan kenapa fixed income? karena suku bunga. Jadi tadinya mereka taruhnya di deposit, pindahnya kalo gak ke money market, ke fixed income. Itulah mengapa pertumbuhannya sangat kuat, karena pengaruh dari suku bunga,” jelasnya.
Kendati demikian, Afifa meminta kepada para manajer investasi untuk tidak terlalu berpikir negatif terkait hal ini. Menurutnya, ini adalah siklus dari ekonomi yang dihadapi di semua negara, bukan hanya di Indonesia.

