Gaikindo Ungkap Gap Pendapatan dan Harga Mobil Baru Jadi Penyebab Stagnasi Penjualan Mobil
JAKARTA, investortrust.id - Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengungkapkan bahwa salah satu penyebab penjualan mobil di dalam negeri mengalami stagnasi adalah karena adanya kesenjangan atau gap antara pendapatan dan harga mobil baru.
Berdasarkan data yang dipaparkan Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumala, penjualan mobil domestik mengalami stagnasi dalam 10 tahun terakhir ini, yakni hanya berada di level 1 juta unit setiap tahunnya.
“Salah satu faktor pemicu stagnasi pasar mobil adalah harga mobil baru tidak terjangkau oleh pendapatan per kapita masyarakat. Gap antara pendapatan rumah tangga dan harga mobil baru makin lebar,” ucapnya di Kantor Kemenperin, Jakarta Selatan, Rabu (10/7/2024).
Selain itu, Kukuh juga mengungkapkan penjualan mobil pada Januari-Mei 2024 sebanyak 334.969 unit. Angka ini pun mengalami penurunan jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu, yakni mencapai 423.771 unit.
Baca Juga
Penjualan Mobil Stagnasi Selama 10 Tahun, Kemenperin Usulkan Insentif Fiskal Ini
Ia pun mengungkapkan penurunan penjualan mobil dalam negeri tersebut dipicu berbagai faktor, antara lain kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat. Hal tersebut menyebabkan adanya peningkatan non performing loan (NPL) dan pengetatan pemberian kredit dari perusahaan pembiayaan,
Kondisi pelemahan penjualan mobil dalam negeri semakin jika dipicu oleh Peraturan OJK Nomor 22 Tahun 2023 tentang Perlindungan Konsumen dan Masyarakat di Sektor Jasa Keuangan, serta adanya perayaan Idul Fitri pada April 2024.
"Ini mempersulit pelanggan kita yang memberikan pembiayaan. Itu dampaknya adalah kemudian pembelian kendaraan di Januari itu semakin menurun. Berikutnya, sampai kemudian di tahun 2024 masuk di Februari itu pemilu," terangnya.
Baca Juga
Penjualan Mobil Semester I-2024 Loyo, Gaikindo Bakal Ubah Target?
Dia menambahkan, kondisi belum membaik pada masa satu bulan puasa Ramadan. Lalu pada bulan April ada Lebaran. “Biasanya dari data kita, Lebaran itu penjualan turun kurang lebih 30% dibanding dengan kondisi bulan sebelumnya," tandas Kukuh.

