Indonesia Impor Listrik dari Malaysia, YLKI: Bukan Masalah
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tidak menutupi bahwa saat ini Indonesia masih mengimpor listrik dari Malaysia untuk wilayah Kalimantan. Menurut Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi, ini bukanlah suatu masalah.
Tulus memaklumi jika Indonesia membutuhkan bantuan dari negara tetangga untuk menutupi kurangnya kebutuhan listrik di Kalimantan. Ia menyebut hal seperti ini lumrah terjadi di negara-negara Eropa.
Baca Juga
Listrik di Sumbar Padam Total, YLKI Ingatkan PLN Antisipasi Blackout untuk Hindari Kerugian Warga
“Saya kira ini tidak masalah, dan hal yang biasa di negara-negara Eropa, karena energi listrik bisa interkoneksi dengan kabel. Di Eropa, listrik lintas negara hal yang biasa,” kata Tulus Abadi saat dihubungi Investortrust, Rabu (10/7/2024).
Tulus menerangkan, ada sejumlah faktor yang melatarbelakangi mengapa suatu negara memilih untuk mengimpor listrik dari negara lain, ketimbang harus membangun pembangkit listriknya sendiri. Salah satunya adalah soal biaya.
“Kalau bangun pembangkit malah jatuhnya bisa lebih mahal kepada konsumen maupun dari sisi operasional,” papar dia.
Menurut Tulus, kebutuhan listrik di Kalimantan bisa saja dipenuhi tanpa perlu impor jika Indonesia sudah memiliki teknologi yang mumpuni. Adapun teknologi yang dimaksud berupa kabel laut yang bisa mentransmisikan aliran listrik antar-pulau.
Baca Juga
“Mungkin nanti kalau bisa dari sisi teknologi, bisa memasok antar-pulau via kabel laut. Yang penting adalah mana yang lebih efisien dan andal,” sebut Tulus.
Sementara itu, Direktur Manajemen Pembangkitan PT PLN, Adi Lumakso mengungkapkan, pembangunan transmisi di kawasan Kalimantan dilakukan secara bertahap. Hal ini sejalan dengan upaya Indonesia menggenjot pembangunan pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT).
“Bertahap ya dan memang sekarang ini pembangunan arahnya pembangkit itu berbasis renewable yang semuanya itu pasti memerlukan potensi alam sekitar. Kebetulan Kalbar itu potensi airnya lokasinya jauh, jadi kita menunggu transmisi,” terang dia saat ditemui di Hotel Mulia Senayan, Jakarta (19/6/2024).

