Indonesia Perlu Waspadai Persaingan Perdagangan Internasional di Industri Sawit, Ini 3 Faktor Pemicunya
JAKARTA, investortrust.id - Dosen Magister Perencanaan Ekonomi dan Kebijakan Pembangunan (MPKP) FEB Universitas Indonesia (UI) Eugenia Mardanugraha menyebutkan, persaingan perdagangan internasional menjadi salah satu tantangan berat yang dihadapi industri kelapa sawit Indonesia.
"Itu adalah mengenai bagaimana strategi persaingan kita untuk menghadapi pesaing-pesaing di pasar perdagangan internasional," ucapnya di diskusi bertajuk 'Strategi Lanjutan Akselerasi Hilirisasi CPO' yang digelar investortrust.id di Gedung Kemenperin, Jakarta Selatan, Kamis (20/6/2024).
Eugenia mencatat terdapat tiga persaingan, yaitu persaingan dengan negara produsen sawit, yaitu Malaysia. Kemudian banyak negara-negara penghasil sawit yang mengembangkan lahan-lahan sawit itu seperti Thailand, Kolombia, Nigeria yang juga mau melepaskan ketergantungannya terhadap Indonesia.
"Itu adalah mengenai bagaimana strategi persaingan kita untuk menghadapi pesaing-pesaing di pasar perdagangan internasional," ucapnya di diskusi bertajuk 'Strategi Lanjutan Akselerasi Hilirisasi CPO' yang digelar investortrust.id di Gedung Kemenperin, Jakarta Selatan, Kamis (20/6/2024).
Eugenia mencatat terdapat tiga persaingan, yaitu persaingan dengan negara produsen sawit, yaitu Malaysia. Kemudian banyak negara-negara penghasil sawit yang mengembangkan lahan-lahan sawit itu seperti Thailand, Kolombia, Nigeria yang juga mau melepaskan ketergantungannya terhadap Indonesia.
Baca Juga
Akademisi Ini Sebut 2 Strategi Sukseskan Hilirisasi Sawit RI, Apa Saja?
"Jadi kalau Indonesia dan Malaysia tentu mau tidak mau itu pasti bersaing di dalam produksi atau pasar industri sawit ini. Apabila Indonesia itu mau membuat produk-produk hilir sawit, tentu hulunya itu nanti akan di ekspor oleh Malaysia. Nah strategi itu yang perlu dipikirkan," kata ia.
Kemudian yang kedua persaingan pada pasar konsumen. Ia menjelaskan, kita India dan Tiongkok adalah dua negara selain Uni Eropa yang merupakan importir sawit terbesar dari Indonesia, sehingga akan mempertimbangkan untuk memindahkan ekspor dan mengurangi impor dari Indonesia apabila melakukan hilirisasi sawit.
"Jadi CPO-nya itu nanti bagaimana memindahkan impornya itu dari Malaysia. Nah ini yang perlu juga diperhitungkan di dalam strategi untuk bisa melakukan hilirisasi ini," ungkap Eugenia.
Baca Juga
Dirut BPDPKS: Perlu 1 Lembaga yang Diberi Kewenangan Khusus untuk Hilirisasi Sawit
Lebih lanjut, menurut Eugenia adalah terkait kampanye negatif CPO Indonesia, khususnya di negara Uni Eropa. Ia menilai, hal tersebut akan berdampak pada kesuksesan hilirisasi dari kelapa sawit, terutama dalam aspek ekspor produk jadi sawit ke luar negeri.
"Jadi kalau produk-produk hilir yang akan dihasilkan oleh Indonesia itu nantinya juga akan diekspor, tentu kampanye negatif ini juga akan terus berpengaruh terhadap kesuksesan daripada hilirisasi produk ekspor di Indonesia," ujarnya.

