AI Jadi Persaingan Geopolitik, Indonesia Siap Hadapi Persaingan
JAKARTA, investortrust.id - Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menjadi fokus utama dalam persaingan global dan geopolitik. Indonesia sendiri memastikan ikut menandatangani deklarasi komitmen untuk mengembangan AI yang bertanggung jawab dalam acara AI Action Summit 2025 di Prancis pada 10-11 Februari 2025.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, menyebut penandatanganan deklarasi merupakan bentuk keseriusan pemerintah dalam membangun ekosistem AI yang inklusif.
"AI bukan lagi sekadar teknologi, tapi sudah menjadi bagian dari geopolitik global. Negara yang tertinggal dalam pengembangan AI akan sulit bersaing di era digital," ujar Nezar secara virtual dalam acara 'Tech and Telco Summit 2025', Jumat (21/2/2025).
Menurut Nezar, salah satu sorotan dalam AI Action Summit adalah inovasi terbaru dari China, yakni DeepSeek. Chatbot ini diklaim mampu melakukan pemrosesan data secara lebih efisien dibanding AI yang ada saat ini.
Kehadiran DeepSeek juga disebut mengubah peta persaingan AI dunia, terutama di sektor industri dan pertahanan. Nezar menyebut bahwa Indonesia harus memanfaatkan momentum ini dengan mendorong riset dan pengembangan AI di dalam negeri.
"Kita tidak bisa hanya menjadi pengguna AI, tapi juga harus berperan dalam pengembangannya. Itu sebabnya pemerintah terus mendukung riset dan investasi di bidang ini," tegasnya.
Lebih lanjut, Nezar menegaskan bahwa Indonesia melihat AI sebagai bagian dari strategi digital nasional untuk meningkatkan daya saing di tingkat global. Menurutnya, AI diproyeksikan akan menyumbang sekitar US$ 366 miliar terhadap PDB Indonesia pada 2030.
"AI bisa menjadi penggerak ekonomi digital kita, tapi harus dibarengi dengan kebijakan yang tepat agar manfaatnya bisa dirasakan oleh semua lapisan masyarakat," tutupnya. (C-13)

