Emiten Rokok masih Perlu Diwaspadai, Ini Faktor Pemicunya
JAKARTA, investortrust.id - CGS International Sekuritas Indonesia mempertahankan prospek underweight saham sektor consumer staples atau emiten rokok dipicu atas peluang penurunan laba tahun 2024 akibat ketidakmampuan untuk menaikkan harga di tengah tingginya cukai.
Sedangkan peluang tidak adanya kenaikan cukai rokok tahun 2025 diprediksi CGS Sekuritas bisa mengurangi tekanan kenaikan harga dan berpotensi meningkatkan laba bersih emiten sigaret, yaitu PT Gudang Garam Tbk Tbk (GGRM), PT H.M Sampoerna Tbk (HMSP), dan PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) tahun 2025 masing-masing sebesar masing masing 69%/31%/7% .
“Meski demikian emiten ini masih menghadap upside risk, karena keputusan akhir cukai rokok akan diambil pada rapat paripurna DPR akhir Oktober 2024 atau awal November 2024,” tulis analis CGS Sekuritas Jason Chandra dan Elizabeth Noviana dalam riset yang dikutip Kamis (10/10/2024).
Baca Juga
Kemasan Rokok Polos Tanpa Merek Dikhawatirkan Ancam Keberlangsungan Pertanian Tembakau
Selain factor tersebut, CGS Sekuritas menyebutkan, emiten rokok menghadapi berlanjutnya pergeseran konsumen ke produk yang lebih murah, terutama ke sigaret kretek tangan (SKT) dan sigaret kretek mesin (SKM) Tier 2. Sampoerna Hijau (SKT), Wismilak Arja (SKT) dan Diplomat EVO (SKM Tier 2), termasuk diantaranya merek-merek lainnya.
Tantangan emiten ini juga datang dari masih beredarnya penjualan rokok batangan, meskipun peraturan pemerintah turunan dari UU kesehatan telah disahkan.
CGS mencermati bahwa merek-merek unggulan seperti Gudang Garam Filter International (Tier 1 SKM), Sampoerna Mild (Tier 1 SKM), Dji Sam Soe (SKT), dan Magnum Filter (Tier 2 SKM) paling banyak disebut. Kemudian, volume penjualan pada September 2024 masih lemah dan distribusi rokok ilegal masih banyak.
CGS Sekuritas memperkirakan GGRM dan WIIM dapat mengalami dilusi marjin laba kotor karena kedua perusahaan belum sepenuhnya membebankan kenaikan cukai FY24 ke harga produknya.
Baca Juga
Begini Rekomendasi dan Target Harga Saham Rokok Usai Cukai Batal Naik di 2025
“Dalam pandangan kami, HMSP seharusnya memiliki kinerja yang lebih baik, dibandingkan kenaikan harga yang konsisten. Oleh karena itu, kami melihat bahwa laba bersih 9M24F GGRM/HMSP/WIIM dapat turun sebesar 69%/18%/48% yoy. Proyeksi penurunan tersebut lebih tinggi, dibandingkan konsensus Bloomberg,” tulisnya.
Oleh sebab itu, CGS Sekuritas memberikan rekomendasi reduce saham GGRM dengan target harga Rp 13.200, reduce saham HMSP dengan target harga Rp 720, dan hold saham WIIM dengan target harga Rp 1.200.
Grafik Saham GGRM, HMSP, dan WIIM

