Platform Digital Lebih Bahaya dari Starlink, Apa Iya?
JAKARTA, investortrust.id - Isu kedaulatan data kembali menjadi sorotan setelah keluarnya pernyataan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie Setiadi di hadapan para wakil rakyat.
Dalam Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi I DPR RI pada Senin (10/6/2024) lalu, Budi Arie menyebut platform pesan instan WhatsApp jauh lebih berbahaya, dibandingkan dengan layanan internet berbasis satelit orbit bumi rendah atau low earth orbit (LEO) Starlink.
“Memang soal (layanan) OTT (over the top) ini perlu diatur, terutama WhatsApp. Kalau saya mau katakan lebih berbahaya dibandingkan Starlink,” katanya.
Baca Juga
BRIN Kerja Sama dengan Korea Selatan untuk Kembangkan AI dan Big Data
Budi Arie mengungkapkan, dari 340 juta pengguna ponsel di Tanah Air, sebanyak 250 juta merupakan pengguna WhatsApp. Bagaimana kedaulatan data dari pengguna platform tersebut, khususnya pengguna yang berasal dari Indonesia.
“Makanya tadi kita soal OTT diatur, kita perlu diskusi khusus. Termasuk bagaimana mindahin data center (pusat data) ke Indonesia,” ujarnya.
Ketua dan Pendiri Indonesia Cyber Security Forum (ICSF) Ardi Sutedja menyebut apa yang disampaikan oleh Menkominfo ada benarnya. Apalagi, masyarakat Indonesia selama ini hanyalah pengguna layanan, alih-alih pengembang platform digital.
“Persoalan yang disampaikan Pak Menkominfo sebenarnya bukan hal baru karena kita harus jujur bahwasanya kita ini hanya konsumen, penikmat, dan pemanfaat teknologi digital, dan bukan penciptanya,” katanya ketika dihubungi oleh Investortrust pada Jumat (14/6/2024).
Menurut Ardi, persoalan utama terkait dengan kedaulatan data bukanlah lokasi dari peladen atau server seperti yang disampaikan oleh Menkominfo. Persoalan tersebut lebih kepada kesiapan masyarakat saat menggunakan atau memanfaatkan platform digital.
“Lebih pada kesiapan dan maturitas masyarakat dalam mempergunakan dan memanfaatkan teknologi. Hal mana yang tidak pernah dipersiapkan sejak dini sebagai bagian dari budaya,” tuturnya.
Selain itu, masyarakat Indonesia juga tidak pernah diajarkan untuk bersikap kritis dan selektif di dalam memilih dan memanfaatkan teknologi. Alhasil, muncul fenomena rasa takut merasa “tertinggal” karena tidak mengikuti aktivitas tertentu atau fear out missing out (FOMO).
Baca Juga
Kemenkominfo: Ada Potensi Hadirnya Pesaing Baru Starlink di Indonesia
Hal lain yang juga menjadi persoalan besar dan tidak disadari pemerintah terkait pemetaan rantai pasok perangkat teknologi di Indonesia. Menurut Ardi, ini berimbas pada isu terkait dengan integritas perangkat yang berisikan ribuan komponen dan masing-masing punya sistem operasi sendiri.
“Celakanya kita belum memiliki laboratorium forensik lengkap untuk menguji hal ini,” tegasnya.
Hal lain yang menjadi persoalan adalah apakah perusahaan teknologi global bukan menempatkan fasilitasnya di dalam negeri atau tidak. Tetapi lebih pada transparansi dari mereka di dalam menjamin keamanan dan keselamatan penggunanya di Indonesia.
“Selama ini saya belum pernah melihat adanya perusahaan teknologi yang berani menjamin keandalan teknologinya dalam bentuk riil seperti asuransi,” pungkasnya

