Pengamat Ingatkan Kemenkomdigi: BTS Palsu Lebih Bahaya dari Scam Biasa
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pengamat teknologi Heru Sutadi mengingatkan Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) ancaman penipuan digital kini semakin serius dengan maraknya penggunaan BTS palsu. Ia menyebut penerapan face recognition pada registrasi SIM card dan sistem anti-scam operator masih belum cukup menutup celah yang dimanfaatkan pelaku kejahatan siber.
“Penanganan scam harus didekati secara komprehensif,” ujar Heru kepada investortrust.id, Senin (24/11/2025).
Baca Juga
Bareskrim Selidiki Jaringan Internasional yang Terlibat Kasus Fake BTS
Menurutnya, face recognition dan sistem keamanan operator dapat membantu. Namun, keduanya masih menyimpan potensi penyalahgunaan data sekaligus tidak mampu menjangkau ancaman yang berada di luar jaringan inti operator.
Direktur Eksekutif ICT Institute itu menegaskan, ancaman terbesar justru muncul dari perangkat ilegal pemancar sinyal yang dikenal sebagai fake BTS atau IMSI catcher.
“Anti-scam operator bagus, face recognition juga bisa dipakai potensi penyalahgunaan data pengguna, tetapi ada juga BTS palsu yang bisa mengirim SMS atau WA tanpa kita kehendaki yang berisi scam, phishing,” jelasnya.
Ia menjelaskan BTS juga palsu memungkinkan pelaku mengakses informasi sensitif hingga menguasai perangkat pengguna.
“BTS palsu tidak hanya mengambil data di ponsel kita, tetapi juga bisa mengambil alih ponsel kita, WhatsApp kita, dan juga kita akan jadi korban penipuan dan pencurian seperti akun perbankan dan keuangan kita yang ada dalam ponsel,” ujarnya.
Diketahui, lonjakan kasus fake BTS sepanjang 2025 memperlihatkan sisi gelap ekosistem telekomunikasi yang belum sepenuhnya terawasi. Kerugian korban ditaksir mencapai triliunan rupiah akibat pencurian data, OTP perbankan, hingga pengambilalihan identitas digital yang dilakukan lewat SMS palsu mengatasnamakan institusi resmi.
Baca Juga
Gandeng Polri, Kemkomdigi Gencarkan Aksi Berantas Fake BTS dan Judi Online
Heru menilai Kemenkomdigi dan operator perlu meningkatkan pengawasan jaringan secara proaktif.
“Jadi harus komprehensif, serta pengawasan keberadaan BTS palsu ini juga harus intensif dilakukan,” tegasnya.
Di sisi lain, ia juga mendorong penertiban perangkat ilegal, koordinasi antar-operator, dan pembaruan sistem deteksi jaringan sebagai langkah mendesak. Tanpa penguatan keamanan berbasis ekosistem, kata Heru, masyarakat akan terus menjadi target empuk para penipu yang memanfaatkan celah di luar kontrol pengguna dan operator.

