Serangan Ransomware Global Meningkat 49%, Ini Sektor yang Paling Diincar di Indonesia
JAKARTA, investortrust.id - Serangan ransomware secara global pada 2023 dilaporkan mengalami peningkatan hingga 49% dibandingkan dengan tahun sebelumnya (year on year/YoY). Ransomware adalah serangan malware (program berbahaya) yang dikirim peretas untuk mengunci dan mengenkripsi perangkat komputer milik korban kemudian meminta tebusan.
Perusahaan keamanan siber Palo Alto Networks melalui laporannya yang bertajuk Ransomware Retrospective 2024: Unit 42 Leak Site Analysis dan 2024 Incident Response Report melaporkan Lockbit 3.0 menjadi kelompok ransomware yang paling aktif baik di lingkup global maupun Asia Pasifik. Lockbit 3.0 menyumbang 23% dari keseluruhan serangan global lewat 928 situs bocoran (leak sites).
Sebagai catatan, leak sites merupakan platform kelompok penjahat siber mengungkapkan data curian kepada publik untuk kemudian memaksa korban kebocoran data agar membayar uang tebusan. Palo Alto Networks diketahui menyelidiki 3.998 unggahan situs bocoran atau leak sites dari berbagai kelompok ransomware.
"Namun, di Indonesia, ALPHV (BlackCat) merupakan kelompok yang paling aktif. Setidaknya terdapat 25 leak sites ransomware baru yang teramati pada tahun 2023," tulis laporan tersebut, dikutip Jumat (10/5/2024).
Baca Juga
Lebih dari 200.000 Ransomware Ancam Asia Tenggara, Indonesia Bagaimana?
Palo Alto Network juga mengungkapkan kenaikan serangan ransomware sepanjang tahun lalu diikuti oleh kenaikan rerata permintaan tebusan dari US$ 650.000 menjadi US$ 695.000 atau 3% (YoY). Walaupun demikian, rerata pembayaran menurun tajam sebesar 32% dari US$ 350.000 menjadi US$ 237.500.
Country Manager Indonesia Palo Alto Networks Adi Rusli mengungkapkan industri ritel/grosir, transportasi & logistik, dan utilitas & energi merupakan sektor industri yang paling banyak menjadi sasaran pemerasan ransomware di tahun 2023. Kelompok ransomware menunjukkan ketertarikan khusus pada industri ritel di Indonesia seiring dengan meningkatnya tren digitalisasi.
"Namun, penting untuk dicatat bahwa tidak ada industri yang kebal dan luput terhadap serangan. Pelaku kejahatan tidak akan pilih-pilih; mereka mengincar target yang paling mudah dan mampu menghasilkan keuntungan yang paling besar,” ujarnya melalui laporan Ransomware Retrospective 2024: Unit 42 Leak Site Analysis dan 2024 Incident Response Report.
Sementara itu, Regional Vice President Asean Palo Alto Networks Steven Scheurmann menilai temuan penelitian ini menegaskan pentingnya keamanan siber sebagai hal yang tidak bisa dinegosiasikan lagi demi menjaga produktivitas dan daya saing bisnis dan organisasi.
“Konsekuensi yang ditimbulkan jika tidak mengutamakan keamanan siber bisa fatal dan merugikan. Oleh karenanya, para pemilik bisnis, apa pun industrinya, harus memprioritaskan pengamanan jaringan dan koneksi digital rantai pasok,” katanya.

