Veeam: Banyak Perusahaan di Indonesia yang Reaktif terhadap Serangan Ransomware
JAKARTA, investortrust.id - Serangan ransomware menjadi ancaman baru bagi industri di dunia. Menurut data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), sebanyak 1,11 juta aktivitas ransomware terdeteksi di Tanah Air.
Country Manager Veeam Indonesia Andreas Kagawa mengatakan meski tak bisa melihat detail aktivitas yang masuk kategori BSSN, dia menduga data aktivitas serangan itu berasal dari serangan yang bersifat multiple.
Andreas mengatakan serangan ini tidak hanya masuk ke industri jasa finansial dan pemerintahan. “Tapi juga ke industri seperti, retail, wholesale, dan energi, bahkan utilitas. Itu yang jadi korban tidak hanya perusahaan besar tapi juga perusahaan menengah ke bawah,” kata Andreas di kawasan Sudirman, Jakarta, Rabu (7/8/2024).
Meski demikian, Andreas mengatakan serangan ransomware ke industri tersebut kerap kali tidak tercatat. Ini membuktikan banyak perusahaan di Indonesia masih reaktif terhadap serangan ransomware.
Baca Juga
Riset: 75% Perusahaan Alami Serangan Ransomware Lebih dari Sekali
“Mereka biasanya baru sadar setelah kena serangan. Kalau dari observasi kita, dari survei (global), sebanyak tiga dari empat perusahaan pernah terkena serangan ransomware,” ujar dia.
Bagaimana dengan satu perusahaan? Andreas menyebut satu perusahaan itu belum tentu dapat menghalau serangan ransomware. Dia menyebut serangan yang muncul bisa jadi sudah terjadi dan menunggu momentum.
“Karena mencari data yang tepat untuk mereka enkripsi,” kata dia.
Andreas mengapresiasi peran pemerintah Indonesia yang mengajak perusahaan dan lembaga pemerintahan untuk melaksanakan aturan dari Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi. Dia mengatakan perusahaan dan lembaga, serta perorangan yang gagal menjaga data pelanggan akan dikenai sanksi.
Baca Juga
Bareskrim Polri Akui Tak Mudah Selidiki Serangan Ransomware ke PDNS 2
“Kami tahu saat ini Kominfo juga membuat peraturan yang memberi mandat semua perusahaan atau lembaga pemerintahan untuk punya back up,” ucap dia.
Melihat kondisi ini, Andreas menyarankan agar perusahaan dan masyarakat memiliki perlindungan data secara menyeluruh. Dia menyebut perlindungan yang dimaksud bukan untuk berandai-andai.
“Kita harus berpikir suatu saat pasti kena. Nggak tahu kapan kenanya, jadi harus memikirkan tidak hanya menghindari serangan tapi juga memiliki ketangguhan menyimpan data,” kata dia.
Andreas mengatakan Veeam menawarkan ketangguhan data dengan lima pilar yang diberikan, di antaranya data back up, data recovery, data security, data freedom, dan data intelligence.
Saat ini, kata Andreas, Veeam telah melindungi sebanyak 550.000 pelanggan di seluruh dunia. Dari data tersebut, sebanyak 82% pelanggan berasal dari Fortune 500 dan 73% pelanggan berasal dari Forbes Global 2.000.

