Ironis! Indonesia Genjot Hilirisasi, tapi Belum Kuasai Teknologinya
JAKARTA, investortrust.id - Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi/BKPM, Nurul Ichwan menekankan pentingnya hilirisasi bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun, ia menyayangkan karena Indonesia masih belum menguasai teknologi untuk mewujudkan hilirisasi tersebut.
Nurul Ichwan memaparkan, hal-hal yang berkaitan dengan sumber daya alam yang semakin kekurangan, nilainya menjadi semakin tinggi. Maka dari itu, dengan melakukan hilirisasi akan semakin memunculkan nilai tambah dari produk tersebut.
“Karenanya yang menjadi strategi pemerintah ke depan adalah kita ingin terus melakukan hilirisasi atas sumber daya alam yang kita miliki. Sehingga nilai tambahnya bisa terjadi,” ujar Nurul Ichwan dalam acara Investortrust Economic Outlook 2024, Kamis (25/1/2024).
Jika hal itu bisa direalisasikan, Ichwan menilai negara-negara yang punya teknologi, tetapi tidak punya kemampuan sumber daya alamnya akan datang berkolaborasi dengan Indonesia. Hal ini akan menghasilkan industrialisasi dengan nilai tambah yang lebih baik, mensuplai kebutuhan global, dan meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia.
“Nah itulah yang menjadi strategi bagi kita di Pemerintah Indonesia. Tetap bersikukuh bahwa hilirisasi adalah panglima yang akan kita jadikan kekuatan untuk menarik investasi dan berkontribusi terhadap PDB kita,” tegas dia.
Baca Juga
BKPM Optimistis Realisasi Investasi 2024 akan Kembali Terlampaui
Kendati demikian, Ichwan menyayangkan karena saat ini Indonesia masih belum bisa menguasai teknologi yang dibutuhkan untuk mewujudkan hilirisasi ini. Ia mengambil contoh industri farmasi yang bahan bakunya masih impor sebanyak 80-90%.
Menurutnya, di negara mana pun yang penduduknya banyak, termasuk Indonesia yang punya penduduk empat terbesar di dunia, diyakini banyak mengkonsumsi obat-obatan. Sehingga seharusnya dari sisi pasar yang sudah settle tersebut, Indonesia bisa berkembang. Namun, itu tidak terjadi.
“Kita tidak pernah punya blueprint yang membuat bahwa roadmap perkembangan ekonomi Indonesia, entah dengan hilirisasinya dan segala macam, diikuti dengan perkembangan penguasaan teknologi. Tidak ada. Ini saya bicara dari sisi investasi,” terang Ichwan.
Ichwan mengatakan bahwa program hilirisasi Indonesia saat ini masih bergantung kepada asing. Maka dari itu, menurutnya harus ada kerja sama triplehelix yang dilakukan antara dunia usaha, pemerintah, dan juga dunia kampus dan inovator.
“Kalau tidak dilakukan demikian, sekali kita berkonflik dengan negara yang punya teknologi, kemudian dia mem-banned teknologi tidak masuk ke Indonesia, hancur ekonomi kita. Jadi ini persoalan serius tentang pengembangan teknologi dan me-link-kan teknologi dan inovasi kepada dunia industri,” tandasnya.
Baca Juga
BKPM Sebut Peta Peluang Investasi Didorong Genjot Pembangunan IKN

