Penurunan Biaya Logistik jadi Tantangan Perdagangan RI-India
Jakarta, investortrust.id – Duta Besar India untuk Indonesia dan Timor Leste, Sandeep Chakravorty mengatakan dalam integrasi ekonomi antara Indonesia dan India, penurunan biaya logistik menjadi tantangan dalam perdagangan kedua negara. Selain itu, juga diperlukan adanya konektivitas yang langsung antara Indonesia dan India agar kegiatan ekspor dan impor dapat berjalan dengan baik.
Hal tersebut disampaikan Sandeep pada forum bisnis bertema “Enabling Indonesia-India Economic Integration” yang diselenggarakan Indonesia-India Business Forum (IIBF) bersama Kedutaan Besar India di Indonesia dan Investortrust, di Jakarta, Jumat (15/12/2023). Forum bisnis tersebut juga diisi dengan diskusi yang menghadirkan Managing Director PT Gateway Container Line Hesty Rosmawaty, Chief Operating Officer PT Baramulti Suksessarana Tbk Kamlesh Kumar, dan President Director Asian Paints Indonesia Abhilasa Kannan, dengan moderator Founder Indonesia Economic Forum Sachin V Gopalan.
Sandeep mengungkapkan, pemerintah kedua negara telah berusaha mengatasi berbagai kendala logistik tersebut. Dicontohkan, masih tingginya biaya logistik di India, diatasi dengan master plan Gati Shakti. Master plan yang diinisiasi PM India Narendra Modi tersebut diarahkan untuk membangun berbagai proyek infrastruktur yang berkelanjutan. Di lain pihak, pemerintah Indonesia juga telah melakukan upaya besar untuk mengurangi biaya dalam logistik.
Sandeep mengacu mendapat testimoni dari pengusaha mengenai mahalnya biaya logistik untuk melakukan perdagangan secara global. “Mereka (eksportir) mengatakan kepada saya bahwa dibutuhkan US$ 55 per ton untuk mengirimkannya dari pelabuhan mana pun di India ke Jakarta. Namun jika mereka harus mengirimkan volume yang sama dari Jakarta ke Surabaya, biayanya lebih dari US$ 100. Jadi ada tantangan besar,” ungkapnya.
“Namun biaya pengiriman kontainer dari Mumbai ke (New) Delhi terkadang lebih tinggi dibandingkan pengiriman kontainer serupa dari Mumbai ke Jakarta. Jadi ini adalah tantangan domestik yang sedang ditangani oleh kedua negara. Tetapi menurut saya ini adalah kesempatan untuk berbagi. Untuk berbagi pengalaman. Untuk mengetahui bagaimana kami melakukan itu,” tambahnya.
Sandeep mengatakan bahwa salah satu saran yang digaungkan adalah mendorong adanya Preferential Trade Agreement (PTA) antara India dan Indonesia, agar terjadi keseimbangan dalam perdagangan. Sebab, India menjadi tujuan ekspor minyak terbesar bagi pasar Indonesia.
“Kami akan meningkatkan integrasi ekonomi kami. Perjanjian perdagangan barang Asia dan India. Salah satu saran yang mengemuka adalah apakah kita perlu mengadakan PTA antara India dan Indonesia. Setidaknya dalam barang. Kami berdagang lebih banyak. Namun saya pikir diskusi akan semakin cepat ketika kita memiliki keseimbangan dalam perdagangan kita,” tegasnya.
“Karena kita membutuhkan batu bara. Kita membutuhkan minyak sawit mentah. Dan hal ini memberikan landasan dan keberlanjutan bagi hubungan perdagangan kita. Dan kita harus melihat kemungkinan-kemungkinan ini lagi,” kata Sandeep.
Pada kesempatan yang sama, Advisory Board IIBF, Bayu Prawira Hie juga memberikan pandangannya mengenai hubungan ekonomi India dan Indonesia. Kedua negara yang memiliki hubungan historis yang panjang, memerlukan kolaborasi menuju keberlanjutan kerja sama ekonomi.
“Dengan membina kekuatan di India dan Indonesia, tidak hanya saling memanfaatkan kekuatan satu sama lain, tetapi juga menciptakan kekuatan kolektif, yang berpotensi mendorong kerja sama, meningkatkan kekuatan dan meningkatkan taraf hidup masyarakat,” ujar Bayu. (CR-4)

