Eks Mendag Ini Sebut Indonesia Cuan Banyak dari Hilirisasi Tambang
JAKARTA, investortrust.id - Mantan Menteri Perdagangan RI Muhammad Lutfi menyebut bahwa Indonesia telah merasakan keuntungan besar kebijakan hilirisasi sektor pertambangan. Sedangkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) memiliki peran besar dalam mewujudkan kebijakan ini.
Lutfi menceritakan bahwa pada Desember 2019, Jokowi melarang Indonesia untuk menjual (ekspor) tanah dalam bentuk bijih nikel. Sebab, Presiden ingin bahan tersebut diolah terlebih dahulu untuk meningkatkan nilai jual pada produk.
Baca Juga
Kontribusi Positif Hilirisasi, Sumbang 26,5% Realisasi Investasi 2023
“Pada Desember 2019 neraca perdagangan ekspor bijih berbasis nikel US$ 1,1 miliar. Kita belum bicara baterai. Pada 2020, kita lihat berapa ekspor kita yang berbasis nikel yang sudah diolah menjadi bajar nirkarat atau stainless steel. Itu angkanya melesat menjadi US$ 10,86 miliar,” kata Lutfi dalam acara Blak-Blakan Soal Mobil Nasional dan Polemik LFP vs Nikel, Senin (29/1/2024).
Dipaparkan Lutfi, 69% dari ekspor stainless steel tersebut dikirim ke China. Menurutnya, hal ini ternyata membuat China waswas, karena bisa menghancurkan industri stainless steel mereka. Padahal, yang berinvestasi pembuatan stainless steel di Indonesia tersebut adalah perusahaan China.
“Jadi gini ya, investasi China, teknologi China, uang China, investasi di Indonesia. Menaikkan value added di Indonesia. Yang tadinya nilainya US$ 1,1 miliar menjadi US$ 10,68 miliar. 11 kali nilai tambahnya. China memberikan safeguard 20% terhadap Indonesia,” terang Lutfi.
Baca Juga
Lebih lanjut, dia mengungkapkan, pada kuartal I-2021, neraca perdagangan Indonesia dengan China naik tinggi. Didominasi oleh barang berbasis baja. Stainless steel loncat hampir dua kali lipat. Pada akhirnya di ujung tahun 2021, yang tadinya US$ 10,86 miliar, setelah safeguard, naik menjadi US$ 20 miliar, alias naik 96%.
“Artinya nilai tambah indonesia dari pengolahan bijih nikel ini luar biasa. Di tahun 2022 naik lagi jadi US$ 30 miliar. Jadi inilah yang kita sebut hilirisasi. Kita belum bicara baterai, baru nilai tambah dari nikel. Jadi kalau kita lihat ekspor kita dari nikel, yang buat baterai baru 5%,” sebutnya.
Oleh karena itu, Lutfi sangat mendukung hilirisasi yang ingin digenjot oleh pemerintah ke depannya. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi negara dengan perekonomian kuat di depan.
