Pendapatan Kampung Nelayan Modern Binyeri Ditargetkan Rp14,89 Miliar Per Tahun
JAKARTA, investortrust.id – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menegaskan, pendapatan masyarakat di kampung nelayan saat ini berkisar Rp1,42 miliar dalam setahun. Seiring beroperasinya Kampung Nelayan Modern (KALAMO) Desa Samber Binyeri, Kabupaten Biak Numfor, pendapatan tahun pertama ditargetkan mencapai Rp14,89 miliar per tahun.
Target itu diungkapkan Kepala Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, A. Rita Tisiana di Jakarta, Rabu (6/12/2023). Angka ini masih berupa hitungan kasar untuk 3 tahun ke depan dengan menggunakan perahu motor tempel dua mesin.
“Kondisi saat ini pendapatan masih Rp5 juta per bulan per kapal, sedangkan dengan program KALAMO pendapatan masyarakat capai Rp17 juta per bulan per kapal. Idealnya secara keseluruhan untuk KALAMO ini pendapatan sebesar Rp14,89 miliar,” ungkap Tisiana metika memberikan pemaparan di Media Centre KKP.
Baca Juga
KKP Sebut Kontribusi Perikanan Tangkap Masih Kecil terhadap PDB
Pembangunan KALAMO Binyeri menelan anggaran Rp22,1 miliar. Dana tersebut digunakan untuk pembangunan fasilitas dari hulu ke hilir, temasuk untuk pendampingan dan pelatihan.
“Alokasi tersebut digunakan untuk pembangunan fasilitas pokok produksi, pengusaha perikanan seperti cold storage berkapasitas 10 ton, lalu ada bantuan sarana penangkapan ikan dan seterusnya,” kata Tisiana.
Dibanding KALAMO di Pulau Pasaran, Lampung, Tisiana memaparkan, kondisi Desa Samber Binyeri sangat berbeda dari segi pengolahan. Masyarakat Pulau Pasaran Lampung, mayoritas berprofesi sebagai pengolah. Sedangkan di Sumber Binyeri umumnya nelayan.
Baca Juga
KKP Gandeng Pindad Tangani Pengiriman Ikan dari Indonesia Timur
“Jadi, di satu pulau (Pasaran) itu 90% masyarakatnya adalah pengolah tangkapan laut, khususnya ikan teri, dan tercatat perputaran uang di sana sekitar Rp45 miliar untuk ikan teri saja,” jelas Tisiana.
Ia menambahkan, kekurangan penduduk Pulau Pasaran Lampung terkait packaging, serta tidak ada tempat penyimpanan seperti gudang. “Jadi, mereka menyimpan produknya di luar menggunakan dus-dus, dan lokasinya seperti saung-saung begitu. Nah, inilah yang nantinya akan difasilitasi oleh dirjen teknis,” tandas Tisiana. (CR-3)
Baca Juga
Menteri KKP Ingin Tinggalkan Zaman Jahiliyah, Apa Hubungannya dengan Populasi Ikan?

