Kolam Retensi 3,4 Hektare Jadi Solusi Banjir Soetta, Kapan Dibangun?
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintah berencana membangun kolam retensi seluas 3,4 hektare (ha) untuk mengatasi banjir berulang di kawasan Kali Prancis, Kabupaten Tangerang, Banten, yang turut mengancam operasional Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta). Namun, rencana pembangunan kolam retensi tersebut masih dalam tahap pembahasan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyatakan, pembangunan kolam retensi menjadi salah satu langkah penanganan banjir jangka panjang di kawasan tersebut.
"Ini sedang dibahas ya, sedang dibahas duduk bersama antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan Pemerintah Provinsi Banten, melibatkan semua tentunya, memang cukup kompleks selalu berurusan dengan lahan," kata AHY saat mengecek normalisasi Kali Prancis di Kabupaten Tangerang, Banten, Jumat (6/11/2026).
Baca Juga
AHY Ungkap Progres Fisik Underpass Bitung Tangerang Tembus 70,7%, Dibidik Rampung Februari 2027
Adapun pembangunan kolam retensi sedalam 3 meter ini memiliki kebutuhan tampungan air sebesar 102.371 meter kubik (m3). Sementara potensi total kebutuhan tampungnya mencapai 189.982 m3 tanpa pond existing dan long storage.
AHY menambahkan, persoalan lahan menjadi salah satu hal yang perlu diselesaikan sebelum pembangunan kolam retensi dapat dilakukan. Pemerintah berkomitmen untuk terus mengawal pembahasan tersebut agar proyek bisa segera direalisasikan.
"Kalau tidak dibangun kolam retensi, akan terus berulang (banjirnya) dan kapasitasnya memang tidak mencukupi," ujarnya.
Menurut AHY, penanganan banjir di kawasan tersebut tidak cukup hanya mengandalkan pompa dan normalisasi sungai. Pemerintah juga perlu memperbesar kapasitas sejumlah saluran crossing inlet dan outlet, termasuk melakukan normalisasi Kali Prancis hingga anak sungainya.
Dia menjelaskan, sedimentasi dan pendangkalan Kali Prancis serta anak Kali Prancis menjadi salah satu faktor utama terjadinya genangan di kawasan tersebut.
Ihwal itu, saat ini normalisasi Sungai Prancis masih dilakukan menggunakan sejumlah ponton excavator (excavator amfibi). Pemerintah juga mengerahkan pompa permanen (stationary submersible) dan pompa bergerak (mobile) untuk mengurangi dampak banjir.
AHY menilai, penanganan banjir menjadi perhatian pemerintah karena genangan di kawasan tersebut berulang kali mengganggu mobilitas masyarakat dan operasional Bandara Soekarno-Hatta.
Dia menyebutkan, banjir pada Januari 2026 setinggi 30 sentimeter (cm) lebih menyebabkan penundaan penerbangan hingga 20%, dengan lebih dari 150 penerbangan terdampak.
"Ini berpengaruh pada on-time performance, pada kelancaran penerbangan kita, dan tentunya akan berpengaruh pada aktivitas ekonomi secara keseluruhan," tuturnya.
Adapun kawasan yang menjadi perhatian pemerintah meliputi KM 31 dan KM 33 Tol Prof. Dr. Ir. Sedyatmo, termasuk kawasan di depan Hotel Pop. Kedua lokasi tersebut kerap mengalami genangan yang meluas.
AHY menambahkan, penanganan banjir di kawasan tersebut membutuhkan sinkronisasi dan kolaborasi lintas pemerintah daerah karena lokasinya berada di wilayah perbatasan DKI Jakarta dan Banten, termasuk Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, serta Jakarta Barat.
Terkait penanganan dalam waktu dekat menjelang Januari 2027, pemerintah memprioritaskan normalisasi sungai dan pengerahan pompa.
"Sejauh ini kita fokus pada upaya normalisasi sungai, kemudian tadi dari Jasa Marga juga sudah menyiapkan pompa-pompa yang sudah digelar sebagian ya dan akan terus dilakukan, kemudian dari Angkasa Pura akan melakukan normalisasi, termasuk yang di bagian Sungai Dadap tadi," tandas AHY.
Jasa Marga Siapkan 68 Pompa
Sementara itu, PT Jasa Marga Tbk menyiapkan 68 unit pompa permanen di kawasan Jalan Tol Prof. Dr. Ir. Sedyatmo KM 31 dan KM 33. Rinciannya terdiri dari 65 pompa submersible, dua pompa diesel, dan satu pompa elektrik.
Baca Juga
Prabowo Beri Lampu Hijau Retensi DHE Sebesar 100% Selama 1 Tahun
Selain itu, enam pompa mobile turut disiapkan di sejumlah ruas tol. Rinciannya, satu pompa di Ruas Tol Sedyatmo, satu pompa di Ruas Tol Dalam Kota, satu pompa di Ruas Tol Jakarta-Tangerang, serta tiga pompa di Ruas Tol Jagorawi.
AHY melanjutkan, pemerintah juga menyiapkan langkah antisipasi menghadapi periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026/2027, termasuk penyediaan sandbag dan peralatan pompa melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
"Setiap kali, apalagi high season, high season Nataru misalnya begitu, kita terus mencoba melakukan langkah-langkah antisipasi termasuk melalui Kementerian PU kita siapkan sandbag, kemudian alat-alat yang dibutuhkan, pompa yang cepat agar kalau terjadi genangan sedikit langsung ditangani supaya tidak lebih buruk lagi," jelasnya.
