Harga Emas Menguat Dekati US$ 4.100, Investor Menanti The Fed
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dunia menguat ke sekitar US$ 4.065 per troy ounce pada awal perdagangan Asia, Rabu (28/10/2026), setelah harga minyak mentah melemah selama 2 hari berturut-turut. Pergerakan ini terjadi menjelang keputusan kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed), yang menjadi perhatian investor untuk membaca arah kebijakan moneter.
Penurunan harga minyak berpotensi meredakan tekanan inflasi sehingga memberi ruang bagi The Fed mempertahankan suku bunga. Namun, ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih dapat memicu kenaikan harga energi.
Wakil Presiden sekaligus Strategis Senior Logam di Zaner Metals Peter Grant mengatakan pelemahan harga minyak dapat mendukung penguatan emas karena mengurangi kekhawatiran inflasi.
Baca Juga
Harga Emas Dunia Dekati Level Terendah 3 Bulan, Investor Menanti The Fed
“Harga minyak yang lebih rendah kemungkinan akan memberikan dorongan bagi emas karena meredakan kekhawatiran inflasi dan bisa dibilang mengurangi sikap hawkish The Fed sampai batas tertentu,” kata Grant dlansir Reuters.
Sikap hawkish merujuk pada kecenderungan bank sentral mempertahankan kebijakan moneter ketat, termasuk melalui suku bunga tinggi, untuk mengendalikan inflasi. Kondisi tersebut biasanya menekan emas karena logam mulia tidak memberikan bunga atau imbal hasil rutin seperti sejumlah instrumen keuangan lainnya.
Pelaku pasar menantikan hasil pertemuan kebijakan The Fed pada Rabu. Bank sentral AS diperkirakan mempertahankan suku bunga pada akhir pertemuan Oktober, meskipun kenaikan harga energi sebelumnya telah memicu spekulasi mengenai kemungkinan pengetatan kebijakan moneter. Data probabilitas pasar yang dikutip dalam laporan menunjukkan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Rabu hanya sebesar 6,6%. Sementara itu, peluang kenaikan suku bunga pada Desember tercatat 84,4%.
Selain keputusan suku bunga, investor akan mencermati data Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat yang dijadwalkan terbit pada Kamis (29/10/2026). PCE merupakan indikator pengeluaran konsumsi pribadi yang digunakan untuk mengukur perubahan harga barang dan jasa yang dibeli rumah tangga. Indikator tersebut menjadi salah satu acuan utama The Fed dalam menilai inflasi. Bank sentral AS menargetkan inflasi sebesar 2%, sehingga perkembangan data PCE dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga.
Emas Rentan, Tembaga Mulai Pulih
Ketika emas berupaya mempertahankan level US$ 4.000 per troy ounce, harga tembaga mulai memperpanjang pemulihan dari bagian bawah rentang perdagangannya. Para strategis Scotiabank melihat kondisi pasar komoditas dan aset berisiko yang beragam. Menurut mereka, pemulihan tembaga masih berlangsung secara terbatas, sementara emas semakin rentan ketika berusaha bertahan di atas level psikologis US$ 4.000 per troy ounce.
Scotiabank juga menilai meredanya ketegangan geopolitik, termasuk konflik AS-Iran dan Rusia-Ukraina, dapat menjadi risiko bagi logam mulia. Berkurangnya permintaan terhadap aset lindung nilai saat ketidakpastian mereda berpotensi menekan harga emas dan perak.
Di pasar energi, harga minyak mentah disebut bergerak dalam rentang konsolidasi yang relatif sempit. Minyak West Texas Intermediate (WTI) bertahan sedikit di atas US$ 100 per barel, sedangkan Brent berada di atas US$ 115 per barel.
Harga minyak yang masih tinggi membuat prospek inflasi tetap menjadi perhatian. Apabila konflik di Timur Tengah kembali memanas, gangguan pasokan energi dapat mendorong harga minyak naik dan meningkatkan tekanan terhadap harga barang serta biaya transportasi.
Kondisi tersebut berpotensi menempatkan bank sentral pada posisi yang sulit. Tekanan inflasi yang bertahan dapat membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter, sementara suku bunga tinggi berpotensi menahan permintaan terhadap emas.
Pernyataan Warsh dan Risiko Investasi AI
Perhatian pasar juga tertuju pada pernyataan Warsh mengenai lonjakan investasi dan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Dalam pidatonya, Warsh menyoroti potensi investasi sebagai pendorong pertumbuhan struktural, tetapi tidak memberikan komitmen awal mengenai keputusan kebijakan moneter berikutnya.
Baca Juga
Emas dan Nikel Jadi Mesin Cuan, Laba Antam (ANTM) Melonjak 46% hingga September 2026
Warsh juga mengungkapkan bahwa dirinya “terlalu trauma akibat krisis keuangan global”. Pernyataan itu menggambarkan pendekatan yang menempatkan pengelolaan risiko sebagai pertimbangan penting dalam pengambilan kebijakan.
Di sisi lain, Warsh menyoroti AI sebagai faktor yang dapat mendorong permintaan dan meningkatkan kepercayaan terhadap penggunaan data dalam kebijakan moneter. Namun, ia belum memberikan panduan yang jelas mengenai dampak teknologi tersebut terhadap pasar tenaga kerja dalam jangka pendek.
Pernyataan yang belum memberikan kepastian arah kebijakan membuat pelaku pasar tetap bergantung pada perkembangan data ekonomi. Investor akan menilai bagaimana prospek pertumbuhan, tekanan inflasi, investasi teknologi, dan kondisi pasar tenaga kerja memengaruhi keputusan suku bunga AS berikutnya.
