Impor KRL Bekas Jepang Belum Direstui Pemerintah, Ada Apa?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub) belum memberikan persetujuan atas usulan PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI untuk mengimpor kereta rel listrik (KRL) bekas dari Jepang. Pemerintah masih mengevaluasi spesifikasi teknis kereta yang akan didatangkan, termasuk konfigurasi tempat duduk hingga keberadaan toilet.
Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub, Allan Tandiono menyatakan, KAI telah menyampaikan proposal impor tersebut. Namun, pemerintah masih mempelajari sejumlah aspek teknis sebelum mengambil keputusan.
Baca Juga
"Mereka (PT KAI) sudah menyampaikan proposalnya. Sedang kami pelajari ya, sedang kami evaluasi, terutama terkait spesifikasi teknisnya," kata Allan kepada awak media dalam mediagathering Forum Wartawan Perhubungan (Forwahub) di Jakarta Pusat, Senin (26/10/2026).
Allan menyampaikan, evaluasi mencakup konfigurasi tempat duduk dan kemungkinan menghilangkan toilet di dalam rangkaian kereta untuk menambah kapasitas penumpang.
"Kita perlu tahu detail terkait kursi atau bangku, itu menghadap ke mana. Terus untuk kereta Jepang itu kan ada toiletnya ya. Nah apakah toiletnya akan dikeluarkan (dibongkar, red) sehingga bisa mengangkut lebih banyak penumpang. Detail finalnya seperti apa, kami masih menunggu dari PT KAI," jelasnya.
Ia menegaskan, keputusan impor belum dapat dipastikan selama spesifikasi teknis yang diajukan KAI belum final. "Kan perlu evaluasi spesifikasi teknisnya dulu ya," ucap Allan.
Rencana impor KRL bekas tersebut muncul di tengah meningkatnya kebutuhan armada untuk melayani penumpang KRL atau Commuter Line Jabodetabek.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin sebelumnya mengungkapkan, jumlah penumpang KRL pada semester I-2026 tumbuh 11,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan tersebut jauh di atas perkiraan awal sebesar 3%-4%.
"Ini terjadi anomali kalau kita bandingkan 2025 di 2026, itu 11,5%. Ini semester I di semester I, itu 11,5%. Yang tadinya rata-rata penumpang harian itu di bawah 1 juta, sekarang itu sudah 1,1 juta," ujar Bobby dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI, Rabu (23/9/2026).
Di sisi lain, KAI mencatat sekitar 92 trainset telah berusia 40 tahun dan perlu dikonservasi secara bertahap. Kebutuhan peremajaan armada diperkirakan semakin mendesak pada 2029, ketika sejumlah rangkaian memasuki usia sekitar 45 tahun.
Bobby mengatakan, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan kendala ketersediaan suku cadang dan penurunan kondisi material kereta.
"Yang paling tinggi itu ada di 2029. Ketika trainset-trainset kita ini sudah berumur 45. Ini (trainset) kita sudah tidak deal, satu sparepart-nya sudah tidak ada. Yang kedua, secara metal dia sudah mulai fatigue," kata dia.
Baca Juga
KRL Buatan INKA Kena Recall dan Terlambat Kirim, Ini Penjelasan Dirut KAI
KAI menilai impor KRL bekas dapat menjadi solusi transisi untuk memenuhi kebutuhan armada sembari menunggu kapasitas produksi industri kereta dalam negeri berkembang.
Pengadaan kereta baru dinilai membutuhkan waktu lebih panjang, sedangkan kereta bekas dari Jepang diharapkan dapat didatangkan lebih cepat.
Bobby pun menegaskan, penggunaan kereta bekas tersebut direncanakan hanya untuk jangka waktu terbatas, sekitar 10 tahun, hingga pengadaan armada berikutnya dapat direalisasikan. "Kalau kita impor baru, nantinya produksi kereta dalam negeri akan terganggu. Kalau bekas ini hanya untuk transisi," tutur dia.
