Ketapang Berpotensi Ketumpahan Lalin dari Tol Probowangi Saat Nataru, Ini Langkah Kemenhub
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyiapkan sejumlah pelabuhan alternatif untuk mengantisipasi potensi lonjakan arus kendaraan menuju Bali melalui Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, menyusul beroperasinya Jalan Tol Probolinggo-Situbondo-Banyuwangi (Probowangi).
Direktur Jenderal Perhubungan Darat (Dirjen Hubdat) Kemenhub, Aan Suhanan menyatakan, pihaknya telah melakukan kajian dan survei untuk mengantisipasi peningkatan arus kendaraan dari Jawa menuju Bali pada periode Natal 2026 dan Tahun Baru 2027 (Nataru).
"Kita sudah memitigasi kemungkinan akan derasnya arus ke Bali ya melalui darat. Kita sudah melakukan kajian, survei. Ini sudah selesai mudah-mudahan," kata Aan saat konferensi pers Rapat Koordinasi (Rakor) Evaluasi Angkutan Nataru 2025/2026 dan Persiapan Angkutan Nataru 2026/2027 di kantornya, Jakarta Pusat, Selasa (27/10/2026).
Salah satu langkah yang disiapkan adalah mengoperasikan Pelabuhan Jangkar dan Tanjung Wangi di wilayah Banyuwangi sebagai pelabuhan alternatif dengan tujuan Pelabuhan Celukan Bawang di Bali.
Menurut Aan, rute alternatif tersebut direncanakan untuk melayani kendaraan angkutan pribadi dan kendaraan barang golongan V ke bawah. "Di Banyuwangi atau di Jawa, nanti kita akan mengoperasionalkan Pelabuhan Jangkar ya, kemudian Tanjung Wangi. Itu di Jawa, Banyuwangi. Tujuannya adalah ke Celukan Bawang yang ada di Bali," ujarnya.
Aan menjelaskan, pengoperasian pelabuhan alternatif tersebut juga untuk mengantisipasi peningkatan kapasitas di Pelabuhan Ketapang dan Gilimanuk selama periode Nataru. "Selama masa Nataru ini kita operasionalkan itu," katanya.
Dia berharap peningkatan kapasitas di Pelabuhan Ketapang dan Gilimanuk dapat selesai pada periode Lebaran 2027. Dengan peningkatan kapasitas tersebut, kedua pelabuhan diharapkan dapat melayani kapal berukuran 5.000 gross tonnage (GT). "Karena dengan peningkatan kapasitas tersebut, itu kapal yang 5.000 GT itu bisa bisa nyandar di dermaga tersebut," terang Aan.
Baca Juga
Pemerintah Siapkan Stimulus Nataru Rp 883,4 Miliar, dari Diskon Tiket Kapal hingga Pesawat
Tol Probowangi Sudah Beroperasi
Jalan Tol Probowangi segmen Gending-Paiton sepanjang 24,08 kilometer mulai beroperasi dengan tarif pada 14 Oktober 2026 pukul 00.00 WIB. Pemberlakuan tarif tersebut mengakhiri masa sosialisasi tanpa tarif yang berlangsung selama 14 hari, sejak 30 September hingga 13 Oktober 2026.
PT Jasamarga Probolinggo Banyuwangi (JPB) mencatat sebanyak 231.692 kendaraan melintasi Tol Prosiwangi selama masa sosialisasi. Jumlah tersebut merupakan akumulasi lalu lintas dua arah.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 75.607 kendaraan tercatat keluar dan masuk melalui Gerbang Tol (GT) Kraksaan, sedangkan 156.085 kendaraan melalui GT Paiton. Kendaraan golongan I mendominasi lalu lintas selama periode sosialisasi.
Manager Sumber Daya Manusia dan Umum (SDMU) PT JPB, Hima Jaya mengatakan, pemberlakuan tarif dilakukan sesuai ketentuan pemerintah. "Selama masa sosialisasi, kami mencatat antusiasme pengguna jalan yang sangat tinggi dalam memanfaatkan Jalan Tol Prosiwangi Segmen Gending-Paiton. Mulai 14 Oktober 2026 pukul 00.00 WIB, tarif diberlakukan sesuai ketentuan yang telah ditetapkan pemerintah," kata Hima dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (27/10/2026).
Adapun tarif Tol Prosiwangi segmen Gending-Simpang Susun (SS) Kraksaan-SS Paiton ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 7683/KPTS/Mn/2026.
Untuk kendaraan golongan I, tarif perjalanan Gending-SS Kraksaan sebesar Rp 16.000, Gending-SS Paiton Rp 36.000, serta SS Kraksaan-SS Paiton Rp 20.000.
Sementara itu, kendaraan golongan II dan III dikenakan tarif Rp 24.000 untuk rute Gending-SS Kraksaan, Rp 54.500 untuk Gending-SS Paiton, serta Rp 30.500 untuk SS Kraksaan-SS Paiton.
Baca Juga
Diskon Tiket Pesawat, Kereta, dan Kapal untuk Libur Nataru 2026/2027, Ini Jadwalnya
Adapun kendaraan golongan IV dan V dikenakan tarif Rp 32.000 untuk rute Gending-SS Kraksaan, Rp 72.500 untuk Gending-SS Paiton, serta Rp 40.500 untuk SS Kraksaan-SS Paiton. Beroperasinya ruas tol tersebut juga memangkas waktu tempuh perjalanan. Perjalanan dari Probolinggo menuju Besuki yang sebelumnya membutuhkan waktu hingga dua jam melalui jalur arteri kini dapat ditempuh sekitar satu jam 15 menit.
Sementara itu, terkait pembatasan operasional angkutan barang selama Nataru 2026/2027, Aan mengatakan pemerintah masih mendiskusikan jadwal pelaksanaannya. Namun, pemerintah kemungkinan mengikuti pola pembatasan pada periode Nataru tahun sebelumnya, yakni sejak dimulainya operasi hingga operasi berakhir.
Adapun angkutan barang yang dikecualikan dari pembatasan antara lain kendaraan pengangkut kebutuhan pokok, bahan bakar minyak (BBM), gas, dan ternak. Meski demikian, kendaraan yang mendapat pengecualian tetap harus memenuhi ketentuan dimensi dan muatan. "Tapi yang dikecualikan itu harus tidak ODOL. Tidak over dimension, tidak over load," tutur Aan.
