Ekspor Tumbuh 23%, Menperin Sarmuji Pacu IKM Fesyen dan Kriya Mendunia
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji mendorong penguatan industri kecil dan menengah (IKM) sektor fesyen dan kriya agar semakin inovatif, berdaya saing, serta mampu memperluas penetrasi pasar ekspor. Upaya ini dilakukan melalui penguatan ekosistem industri kreatif, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pengembangan desain produk, dan perluasan kemitraan usaha.
“Industri fesyen dan kriya memiliki potensi besar untuk terus berkembang karena Indonesia mempunyai kekayaan budaya, kreativitas, dan keterampilan masyarakat yang sangat beragam. Potensi tersebut harus kita dorong menjadi kekuatan industri yang mampu menghasilkan produk bernilai tambah, memiliki daya saing, dan diterima pasar internasional,” ujar Menperin dalam keterangan tertulisnya, Minggu (25/10/2026)
Menurut Sarmuji, pengembangan industri fesyen dan kriya tidak cukup hanya mengandalkan keunikan desain maupun kekayaan budaya lokal. Pelaku industri juga perlu memperkuat kemampuan produksi, menjaga kualitas, memahami kebutuhan konsumen, serta membangun strategi pemasaran yang adaptif terhadap perkembangan pasar.
“Kita ingin IKM tidak hanya mampu menghasilkan produk yang bagus, tetapi juga mempunyai kapasitas bisnis yang kuat, mampu memenuhi permintaan pasar, dan terus berkembang menjadi industri yang lebih besar. Karena itu, pendampingan harus dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari pengembangan produk hingga akses pasar,” tegasnya.
BPFIK berperan bangun ekosistem industri kreatif
Menperin menilai keberadaan Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) sebagai unit pelaksana teknis di bawah Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem industri kreatif nasional. Balai ini diharapkan menjadi pusat kolaborasi yang mempertemukan pelaku IKM dengan desainer, akademisi, pelaku industri, lembaga pembiayaan, dan calon pembeli.
BPIFK mengembangkan pendekatan 3C, yakni Create, Connect, dan Catalyze. Melalui pendekatan tersebut, penguatan industri dilakukan dengan meningkatkan kompetensi dan kreativitas pelaku usaha, menghubungkan IKM dengan ekosistem bisnis, serta mempercepat pertumbuhan usaha melalui inkubasi, pendampingan, dan perluasan akses pasar.
“BPIFK harus menjadi tempat lahirnya wirausaha industri kreatif yang tangguh. Kami berharap fasilitas dan program yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal untuk melahirkan produk-produk unggulan yang tidak hanya diminati konsumen dalam negeri, tetapi juga mampu bersaing di pasar global,” kata Sarmuji.
Menperin menambahkan, karya-karya inovatif dari kompetisi Indonesia Fashion and Craft Awards (IFCA) telah menunjukkan bahwa talenta muda Indonesia memiliki kreativitas tinggi untuk menghasilkan produk yang berkelanjutan dan bernilai tambah. Apalagi, produk yang dihasilkan menggunakan material yang ramah lingkungan dan mengangkat kearifan lokal Indonesia.
“Hal ini sejalan dengan tren di luar negeri, bahwa produk sustainable peminatnya terus meningkat, sehingga peluang memperluas pasar hingga ke luar negeri untuk produk kreatif ini semakin terbuka lebar,” ungkapnya.
Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita menjelaskan, berbagai program pemberdayaan yang dilaksanakan BPIFK telah menunjukkan hasil positif, terutama dalam meningkatkan kemampuan usaha, memperluas pasar, dan mendorong pertumbuhan ekspor IKM fesyen dan kriya.
Sepanjang 2018–2026, sebanyak 525 IKM telah mendapatkan pembinaan melalui berbagai program BPIFK dan tersebar di 30 provinsi. Jumlah tersebut meliputi 369 IKM di Pulau Jawa, 54 IKM di Bali, 43 IKM di Sumatera, 34 IKM di Sulawesi, serta pelaku usaha dari sejumlah wilayah lainnya di Indonesia.
“Program pembinaan yang kami jalankan diarahkan agar IKM dapat berkembang secara berkelanjutan. Kami tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga mendorong inovasi desain, peningkatan kapasitas produksi, penguatan manajemen usaha, serta membuka peluang kemitraan dan pemasaran,” ungkap Reni.
Dari sisi ekspor, IKM binaan BPIFK mencatatkan nilai ekspor sebesar US$150,191 ribu pada 2025 yang berasal dari 17 IKM. Sementara itu, sepanjang Januari–September 2026, nilai ekspornya telah mencapai US$184,941 ribu dari 25 IKM, atau meningkat 23,1% dibandingkan total ekspor sepanjang tahun sebelumnya.
BPIFK juga mengidentifikasi potensi ekspor pada triwulan IV tahun 2026 sebesar US$68,533 ribu dari 13 IKM. Apabila seluruh potensi tersebut terealisasi, total ekspor sepanjang 2026 diproyeksikan mencapai US$253,474 ribu atau meningkat 68,8 persen dibandingkan 2025.
“Peningkatan ekspor ini menunjukkan bahwa produk fesyen dan kriya Indonesia memiliki peluang yang semakin terbuka di pasar internasional. Kami akan terus memperkuat pendampingan agar semakin banyak IKM mampu memenuhi standar pasar global dan membangun hubungan bisnis yang berkelanjutan,” jelas Reni.
