Kementerian Perindustrian Dorong IKM Fesyen dan Kriya Naik Kelas Lewat Program CBI 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id -- Kementerian Perindustrian terus memantau dan memastikan agar para wirausaha muda serta industri kecil dan menengah (IKM) sektor fesyen dan kriya bisa lebih berani, produktif, dan naik kelas dengan memiliki strategi bisnis yang tepat, terukur, dan terus dievaluasi melalui Program Creative Business Incubator (CBI) yang diinisiasi oleh Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) di bawah Direktorat Jenderal IKMA.
Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (16/8/2026). Menperin menegaskan bahwa di tengah persaingan pasar yang semakin ketat, pelaku IKM tidak cukup hanya menghasilkan produk berkualitas, tetapi juga perlu memiliki strategi bisnis yang tepat, memahami karakter konsumen, serta mampu membangun identitas dan keunikan produk yang menjadi pembeda di pasar.
“Kami terus memantau dan memastikan agar para wirausaha muda dan IKM sektor fesyen dan kriya bisa lebih berani, produktif, dan naik kelas dengan memiliki strategi bisnis yang tepat, terukur, dan terus dievaluasi. Oleh sebab itu, kami memiliki Program Creative Business Incubator yang diinisiasi Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) di bawah Ditjen IKMA yang fokus pada pengembangan sektor industri ini,” kata Menperin.
Langkah pendampingan bisnis secara berkesinambungan ini penting karena sektor industri fesyen dan kriya memiliki prospek yang sangat menjanjikan. Pertumbuhan industri fesyen dan kriya nasional menunjukkan tren positif, yakni meningkat dari 2,43% pada tahun 2024 menjadi 4,93% persen pada tahun 2025.
Kinerja ekspor sektor tersebut juga mencatatkan capaian positif pada periode Januari hingga April 2026, di mana nilai ekspor industri kriya mencapai 228 juta dolar AS, ekspor industri fesyen pakaian jadi mencapai US$ 2,78 miliar, dan industri tekstil sebesar US$ 1,04 miliar.
Baca Juga
Saudi Fashion & Tex Expo 2026: Kemendag Buka Pendaftaran Eksportir Fesyen hingga 15 Juli 2026
Kendati mencatatkan potensi besar terhadap perekonomian nasional, tantangan persaingan pasar yang semakin ketat menuntut pelaku industri untuk memiliki diferensiasi produk yang kuat, membangun identitas yang kokoh, serta menciptakan nilai unik sebagai keunggulan kompetitif.
Program Creative Business Incubator (CBI)
Menperin meyakini bahwa program pendampingan CBI yang dilaksanakan BPIFK menjadi instrumen vital dalam memperkuat ekosistem dan rantai pasok lokal yang terintegrasi agar para pelaku IKM saling terhubung dan memiliki arah pengembangan bisnis yang jelas.
Pada Juli 2026, BPIFK resmi membuka Program CBI 2026 sebagai wadah pengembangan wirausaha muda sektor kreatif melalui pelatihan serta pendampingan bisnis yang terstruktur dan berkelanjutan.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita menjelaskan bahwa program CBI dilaksanakan melalui sejumlah tahapan pendampingan dengan melibatkan akademisi dan praktisi kompeten. Reni Yanita menyampaikan bahwa peserta akan mendapatkan kelas dengan kurikulum yang mempertimbangkan kebutuhan wirausaha muda melalui materi, diskusi, penugasan mandiri, hingga evaluasi agar IKM mampu naik kelas, memperluas pasar, dan mengembangkan bisnis berkelanjutan.
Sejak tahun 2018, program coaching CBI telah melahirkan alumni yang berhasil meningkatkan kapasitas produksi dan omzet, bahkan naik kelas dari skala mikro ke kecil maupun kecil ke menengah. Beberapa alumni juga berhasil masuk ke dalam rantai pasok industri besar, seperti Rappo alumni CBI 2024 asal Makassar yang berkolaborasi dengan Garuda Indonesia dan Borobudur Marathon melalui inovasi pengolahan limbah plastik menjadi produk kreatif bernilai tambah.
Reni Yanita menuturkan bahwa keberhasilan para alumni membuktikan pendampingan yang tepat dapat membuka peluang besar bagi IKM dalam meningkatkan kapasitas usaha, pengembangan pasar, maupun kemitraan dengan industri skala besar.
Pada pelaksanaan CBI 2026, sebanyak 20 peserta terpilih akan mengikuti kelas daring selama 14 hari, kemudian dikurasi hingga terpilih delapan peserta untuk mengikuti kelas tatap muka di Bali. Peserta akan memperoleh materi manajemen strategi, manajemen operasi, hukum bisnis, hingga keuangan, serta pendampingan intensif dari mentor yang bertugas mengevaluasi capaian kontrak, kendala, hingga langkah tindak lanjut.
Lulusan Program CBI nantinya menjadi mitra binaan Kementerian Perindustrian yang berkesempatan memperluas jejaring, mengikuti pameran nasional dan internasional, serta mengikuti business pitching dengan mitra ritel, pemodal atau angel investor, dan mitra akses pendanaan.

