Mineral Kritis dan Kesempatan Indonesia Naik Kelas di Sektor Industri Global
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id -- Kekayaan mineral memberi Indonesia lebih dari sekadar peluang ekspor karena nilai strategisnya terletak pada kemampuan mengembangkan industri bernilai tambah sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam lanskap industri global.
Di tengah agenda para pengambil kebijakan dan pelaku keuangan dunia pada Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia di Bangkok, Thailand, isu mineral kritis muncul sebagai salah satu agenda penting.
Bagi negara berkembang, mineral seperti nikel, tembaga, bauksit, dan kobalt tidak cukup hanya menjadi komoditas ekspor, melainkan harus menjadi pijakan untuk membangun industri dan menciptakan lapangan pekerjaan yang lebih berkualitas. Pesan tersebut mengemuka dalam diskusi panel bertajuk Critical Minerals and Economic Transformation in the Global South yang merupakan salah satu acara sampingan pada 14 Oktober 2026 lalu, dengan menghadirkan Managing Director Development Investment PT Danantara Development Management Fund M Rachmat Kaimuddin, Director Macroeconomics and Governance Division United Nations Economic Commission for Africa Stephen Njuguna Karingi, Head Economic Policy and Sustainable Development African Union Commission Patrick Ndzana Olomo, serta Chief Executive Officer Lestari Advisors Indonesia Ery Wijaya.
Berangkat dari kesenjangan yang masih dihadapi banyak negara kaya sumber daya, selama beberapa dekade negara berkembang lebih banyak berperan sebagai pemasok bahan mentah, sedangkan nilai ekonomi yang lebih besar diperoleh dari tahap pengolahan lanjutan, manufaktur, dan distribusi.
Perubahan menuju ekonomi rendah karbon membuat persoalan tersebut semakin mendesak, di mana International Energy Agency mencatat bahwa sektor energi menyumbang sekitar 75% pertumbuhan permintaan mineral kritis utama pada 2025 yang terutama ditopang kendaraan listrik, penyimpanan energi, jaringan listrik, serta teknologi tenaga surya, sementara Bank Dunia menegaskan bahwa masa depan rendah karbon tidak mungkin diwujudkan tanpa mineral yang dikelola secara berkelanjutan dan bertanggung jawab.
Baca Juga
Danantara Minta Rantai Pasok Mineral Kritis Diperkuat, Nilai Tambah Bisa Tembus 642 Kali Lipat
"Bagi Indonesia, momentum ini hadir bersama posisi yang sangat strategis mengingat U.S. Geological Survey menyebut Indonesia menjadi produsen nikel tambang terbesar dunia pada 2024 dengan kontribusi 62 persen terhadap produksi global. Sektor pertambangan dan penggalian nonmigas menyumbang sekitar 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto, sedangkan industri manufaktur logam dasar berkontribusi sekitar 1 persen, sehingga besarnya produksi memberi Indonesia pengaruh penting sekaligus menegaskan kebutuhan untuk memperkuat struktur industri domestik agar kekayaan tersebut dapat diterjemahkan menjadi nilai tambah yang bertahan jangka panjang," ujar Managing Director Development Investment PT Danantara Development Management Fund M Rachmat Kaimuddin dikutip Sabtu (25/10/2026).
Dalam kesempatan ini, M Rachmat Kaimuddin membawa pengalaman Indonesia menjalankan hilirisasi mineral ke dalam dialog ASEAN-Afrika.
"Untuk memperoleh nilai tambah yang optimal dari mineral kritis, kapasitas pengolahan saja tidak cukup. Diperlukan investasi yang terkoordinasi, kemampuan domestik yang lebih kuat, rantai pasok yang tangguh, serta kemitraan yang mampu memobilisasi modal untuk pembiayaan pembangunan dan investasi swasta," ungkap Rachmat.
Pernyataan ini didukung data Kementerian Perindustrian yang menunjukkan besarnya ruang penciptaan nilai tambah dalam sektor industri nasional, di mana bijih nikel yang nilainya berkisar US$ 30 dolar per ton dapat meningkat menjadi US$ 3.628 per ton ketika diolah menjadi mixed hydroxide precipitate sebagai bahan baku baterai atau sekitar 120 kali lipat, bahkan pada tahapan produk baterai tertentu nilai tambahnya dapat mencapai 642 kali lipat.
Dewan Ekonomi Nasional memperkirakan nilai ekspor produk hilirisasi Indonesia mencapai US$ 50 miliar hingga akhir 2026, meningkat sekitar 45% dibandingkan nilai ekspor hilirisasi pada 2024 sebesar US$ 34,5 miliar, yang memperlihatkan bahwa manfaat terbesar mineral tumbuh sepanjang rantai produksi.
Peluang pengembangan ekosistem baterai memperlihatkan skala pekerjaan berikutnya, di mana Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memperkirakan kebutuhan baterai di Indonesia mencapai 108,2 gigawatt-jam pada 2030, sementara untuk mendukung target pengembangan kendaraan listrik kebutuhan kapasitas baterai diproyeksikan mencapai 780 gigawatt-jam sedangkan kapasitas bahan baku yang tersedia saat ini setara 373 gigawatt-jam sehingga masih terdapat ruang investasi sekitar 407 gigawatt-jam.
Kerja sama antarnegara berkembang pun menjadi penting untuk membangun rantai nilai mineral yang lebih tangguh karena negara-negara ASEAN dan Afrika memiliki kepentingan yang sama agar nilai ekonomi transisi energi memperkuat kemampuan industri negara penghasil.
