Panas Tak Berhenti Saat Matahari Terbenam, Warga Kota Kehilangan Waktu Pemulihan
JAKARTA, investortrust.id - Paparan panas di permukiman perkotaan tidak hanya terjadi pada siang hari, tetapi terus berlanjut hingga malam. Kondisi ini membuat warga kehilangan waktu pemulihan tubuh, terutama mereka yang tinggal di permukiman padat dengan kondisi hunian yang rentan terhadap panas.
Direktur Eksekutif Rujak Center for Urban Studies (RCUS), Elisa Sutanudjaja menyatakan, panas di dalam rumah dapat bertahan hingga malam hari, ketika warga seharusnya beristirahat setelah beraktivitas sepanjang hari.
"Rumah yang seharusnya menjadi tempat memulihkan tubuh, justru dia menyimpan panas di saat malam, apalagi dengan penurunan panas yang ternyata tidak terlalu signifikan di malam hari," kata Elisa dalam acara Diseminasi BeHousing di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Menurut Elisa, suhu malam yang tinggi berkaitan dengan risiko kesehatan akibat panas karena tubuh tidak memperoleh kesempatan yang cukup untuk memulihkan diri.
"Nah, dan bagi warga miskin kota, panas adalah paparan 24 jam pada akhirnya, karena bahkan di subuh pun mereka tetap merasakan panas," ujarnya.
Dia menjelaskan, kondisi tersebut dihadapi warga yang tinggal di permukiman padat dengan karakteristik rumah beratap asbes atau seng, minim plafon, serta memiliki jendela kecil. Kondisi hunian tersebut dapat membuat warga kesulitan menghindari panas, termasuk ketika sudah kembali dari tempat kerja.
Temuan tersebut sejalan dengan hasil penelitian BeHousing yang dipaparkan Peneliti RCUS Benaya Valentino Ginting. Penelitian ini dilakukan selama 15 bulan di Jakarta, Semarang, Surabaya, dan Selangor, Malaysia.
Dalam penelitian tersebut, tim mengumpulkan sekitar 160.000 data melalui pengukuran suhu, pemasangan sensor di dalam rumah, serta pengumpulan informasi mengenai pengalaman warga menghadapi panas.
Benaya menyebutkan, hasil pengukuran menunjukkan paparan panas di dalam hunian berbeda-beda berdasarkan karakteristik kawasan dan bangunan.
Di Semarang, suhu operatif di dalam rumah pada mayoritas lokasi penelitian melampaui batas atas rentang kenyamanan termal hampir sepanjang hari, termasuk malam hari.
Sementara di Surabaya, suhu di dalam hunian setelah pagi hari cenderung berada di atas batas atas rentang kenyamanan termal. Kondisi tersebut menunjukkan adanya paparan panas berlebih di kawasan permukiman yang diteliti.
Baca Juga
Prakiraan Cuaca BMKG Hari Ini: Jakarta Berpotensi hujan pada Sore hingga Malam
"Hal ini menyatakan bahwa penduduk Surabaya dan Semarang serta Jakarta mengeluhkan bahwa panas tidak terjadi cuma pada saat siang hari, tetapi juga pada malam hari," kata Benaya dalam kesempatan yang sama.
Dia menambahkan, panas juga memengaruhi aktivitas pemulihan warga. Istirahat dan tidur menjadi aktivitas yang paling terpengaruh oleh kondisi tersebut.
"Sehingga masyarakat yang sering kali mencari hunian atau rumah sebagai tempat berlindung, tetapi tidak bisa mendapatkannya," tandas Benaya.
Keluhan Kesehatan hingga Kesulitan Membayar AC
Riset BeHousing juga mencatat berbagai keluhan kesehatan yang dialami warga akibat paparan panas. Keluhan yang ditemukan meliputi pusing, sakit kepala, keringat berlebih, emosi tidak stabil, kehilangan fokus, batuk, sakit tenggorokan, dan kulit gatal.
Keluhan kesehatan tersebut bervariasi berdasarkan usia dan gender. Laki-laki cenderung melaporkan keluhan terkait kondisi fisik, sedangkan perempuan melaporkan tekanan psikologis. Adapun anak-anak cenderung mengalami gatal-gatal dan kesulitan tidur.
Benaya menyampaikan, kemampuan warga untuk beradaptasi terhadap panas juga dibatasi kondisi ekonomi. Mayoritas rumah tangga dalam penelitian memiliki pengeluaran listrik dan air di bawah Rp 500.000 per bulan.
Kondisi tersebut membuat sebagian warga kesulitan membayar listrik apabila harus menggunakan pendingin ruangan seperti AC.
"Jadi masyarakat bukannya ingin menghemat, tetapi mereka memang cenderung tidak bisa membayar lebih terkait pengeluaran listrik," ucap Benaya.
Dia turut memaparkan kesaksian warga yang menggambarkan keterbatasan tersebut. "Kalau misalnya mereka ingin menghidupkan AC, ya kalau dibela-belain bisa ngutang," kata Benaya, mengutip salah satu responden penelitian.
Alhasil, Elisa menekankan, persoalan panas perkotaan perlu mendapat perhatian karena dampaknya tidak selalu terlihat seperti bencana banjir atau kebakaran. Paparan panas berlangsung perlahan dan berulang, sementara sebagian warga menganggap kondisi tersebut sebagai sesuatu yang biasa.
Baca Juga
Indonesia Cegah Kenaikan Suhu Permukaan Bumi Tak Lebih dari 2 Derajat Celcius, Ini Caranya!
"Bahaya terbesar dari panas ketika kita berhenti merasakannya sebagai bahaya," tegasnya.
Elisa berharap hasil penelitian tersebut dapat menjadi masukan bagi pemerintah dan pemangku kepentingan untuk memperhatikan kondisi hunian serta kelompok masyarakat yang rentan terhadap panas, sehingga rumah dapat berfungsi sebagai tempat berlindung dan memulihkan tubuh.
