Bendungan Karangnongko Rp 1,26 Triliun Berpotensi Rampung Awal 2027
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pembangunan Bendungan Karangnongko dengan nilai kontrak Rp 1,26 triliun berpotensi mundur dari target penyelesaian akhir 2026 menjadi awal 2027. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyebut pembebasan lahan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi penyelesaian proyek tersebut.
Kepala Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah (BPIW) Kementerian PU, Adenan Rasyid menyatakan, pembangunan fisik dan pembebasan lahan Bendungan Karangnongko masih berlangsung.
“Iya, masih on-progress semua. Fisik sama lahan kan biasanya paralel tuh (berjalannya). Diharapkan semuanya sudah selesai semua sesuai dengan target kita,” kata Adenan saat ditemui di Auditorium PU, Jakarta Selatan, Selasa (20/10/2026).
Baca Juga
Kementerian PU Siapkan Jurus Ini buat Atasi Defisit 36% Air di Bendungan Jawa
Saat ditanya apakah proyek tersebut bisa rampung pada akhir 2026 sesuai target, Adenan menyebut penyelesaiannya bergantung pada proses pembebasan lahan. “2026 sepertinya tergantung teman-teman, tapi kalau lihat dari kondisi sekarang dengan lahan seperti itu, sepertinya pada awal 2027 mungkin ya, karena kalau teknis sih bisa, tapi lahan kan banyak faktornya,” jelas dia.
Sementara itu, pengadaan tanah untuk pembangunan Bendungan Karangnongko di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, mulai memasuki tahapan pemberian ganti rugi kepada pemilik lahan.
Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Blora Sugiyanto mengatakan, sebanyak 14 dari 17 pemilik bidang tanah di Desa Mendenrejo, Kecamatan Kradenan, telah menyepakati bentuk ganti kerugian berupa uang pada Kamis (17/9/2026).
"Untuk 17 bidang ini, ada 14 pemilik yang sudah sepakat bahwa bentuk ganti kerugiannya adalah uang. Kesepakatan tersebut dicapai dalam musyawarah penetapan bentuk ganti kerugian di Balai Desa Mendenrejo Kecamatan Kradenan," kata Sugiyanto, seperti dikutip Antara, Selasa (20/10/2026).
Ia menjelaskan, nilai ganti kerugian setiap bidang tanah telah dinilai oleh Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP). Penilaian tersebut menjadi dasar dalam musyawarah dengan masyarakat terdampak.
Secara keseluruhan, pengadaan tanah Bendungan Karangnongko mencakup 1.037 bidang di lima desa, yakni Mendenrejo sebanyak 17 bidang, Ngrawoh 328 bidang, Nginggil 177 bidang, Nglebak 372 bidang, dan Megeri 143 bidang.
Dari total kebutuhan tersebut, sekitar 535 kepala keluarga (KK) terdampak dan nantinya harus direlokasi.
Sugiyanto menyebutkan, proses ganti kerugian di desa lainnya masih berlangsung sesuai tahapan, termasuk penilaian KJPP dan penyelesaian keberatan terhadap hasil penilaian.
Dikerjakan Sejak 2023
Bendungan Karangnongko terletak di Sungai Bengawan Solo, sekitar 30 kilometer (km) di utara Kabupaten Ngawi. Sisi kanan bendungan berada di Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, sedangkan sisi kiri berada di Desa Mendenrejo, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.
Baca Juga
Bendungan Cibeet dan Cijurey Dibidik Rampung 2027, Intip Progresnya
Konstruksi Bendungan Karangnongko mulai dikerjakan pada 2023 oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo melalui dua paket pekerjaan dengan nilai kontrak sebesar Rp 1,26 triliun. Proyek tersebut ditargetkan selesai pada 2026. Bendungan ini memiliki kapasitas tampung sebesar 59,1 juta meter kubik (m3) dan dirancang untuk mengairi daerah irigasi seluas 63.774 hektare (ha).
Selain itu, Bendungan Karangnongko dirancang untuk menambah cadangan air baku sebesar 1.150 liter per detik bagi Kabupaten Bojonegoro, Ngawi, Blora, dan Tuban. Suplai air baku tersebut diproyeksikan dapat memenuhi kebutuhan air minum bagi 270.305 jiwa. Bendungan ini juga diproyeksikan menyuplai air untuk kawasan Solo Valley Werken serta mendukung pengendalian banjir Sungai Bengawan Solo.
Keberadaan bendungan yang masuk dalam proyek strategis nasional (PSN) ini diharapkan membantu mengoptimalkan pengendalian banjir, khususnya di wilayah hilir Kabupaten Lamongan yang selama ini mengandalkan Bendung Gerak Bojonegoro, Bendung Gerak Babat, dan Bendung Gerak Sembayat.
