BI Siapkan 'Peluru' Baru untuk Sektor Properti, KLM Naik Jadi 6%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Bank Indonesia (BI) memperkuat dukungan terhadap sektor perumahan, real estate, dan konstruksi melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM). Total insentif KLM kini mencapai 6%.
Gubernur BI, Destry Damayanti menyatakan, penguatan KLM dilakukan pada September 2026. Total insentif tersebut terdiri atas KLM pembiayaan sebesar 4% dan KLM pendalaman pasar uang sebesar 2%.
"Untuk sektor perumahan, real estate, dan konstruksi, plafonnya sebenarnya 1,4% dari total DPK. Yang terjadi sekarang sekitar 1,32%, jadi sebenarnya masih ada 0,08% yang masih bisa dioptimalkan," ujar Destry dalam pertemuan dengan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait di Gedung BI, Jakarta, Jumat (2/10/2026).
Destry melanjutkan, penguatan KLM turut mendorong penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) komersial baru. Pada periode April 2025 hingga Juli 2026, penyaluran KPR komersial baru mencapai 115.927 unit dengan total nilai Rp 68,35 triliun.
Untuk sektor perumahan, real estate, dan konstruksi, plafon KLM mencapai 1,4% dari total Dana Pihak Ketiga (DPK). Pemanfaatannya saat ini telah mencapai sekitar 1,32%, sehingga masih terdapat ruang sekitar 0,08% yang dapat dioptimalkan untuk mendorong pembiayaan sektor tersebut.
Selain KLM, BI memberikan dukungan terhadap sektor perumahan melalui sejumlah kebijakan. Salah satunya pelonggaran Loan to Value/Financing to Value (LTV/FTV) hingga 100%.
Bank sentral juga memperkuat Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM), termasuk melalui pembiayaan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Dukungan lainnya dilakukan melalui pemanfaatan surat utang PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) dan PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) sebagai underlying repo dalam operasi moneter BI.
Destry menyampaikan, berbagai kebijakan tersebut merupakan bentuk dukungan BI terhadap sektor perumahan dan akan terus diperkuat melalui sinergi dengan pemerintah.
"Ini adalah bentuk dukungan dari Bank Indonesia. Tentunya ke depan kita ingin sinergi yang terus kita perkuat," tegas dia.
Sementara itu, Menteri PKP Maruarar Sirait mengapresiasi dukungan BI terhadap sektor perumahan. Menurutnya, pembangunan perumahan memiliki ekosistem yang luas dan melibatkan berbagai sektor ekonomi.
"Presiden melihat perumahan ini bisa menjadi penggerak ekonomi. Saya merasa tidak sendirian karena Bank Indonesia memberikan dukungan melalui kebijakan-kebijakannya," ujar Ara, sapaan akrab Maruarar.
Maruarar juga menyampaikan, sektor perumahan melibatkan perbankan, pengembang, kontraktor hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Pemerintah juga terus mendorong berbagai program perumahan yang melibatkan pelaku usaha dan tenaga kerja, termasuk melalui pengembangan ekosistem gentengisasi yang dapat menggerakkan aktivitas UMKM dan industri terkait.
"Publik harus tahu bahwa kebijakan Bank Indonesia itu memungkinkan berdampak dan masif untuk ekonomi Indonesia," tutur Ara.
Lebih lanjut, Kementerian PKP dan BI berkomitmen akan memperkuat koordinasi dalam mendukung sektor perumahan, baik melalui penguatan pembiayaan maupun pengembangan ekosistem perumahan.
