Ekspor Nikel Naik 69,3%, Hilirisasi Indonesia Bidik Industri Baterai
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Hilirisasi nikel mendorong kenaikan ekspor dan penerimaan negara, sekaligus membuka peluang bagi Indonesia untuk memperluas peran dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik. Namun, pengembangan industri masih menghadapi tantangan untuk meningkatkan pengolahan dari produk antara menjadi komponen baterai dengan nilai tambah lebih tinggi.
Pada semester I 2026, nilai ekspor nikel dan barang daripadanya meningkat 69,3% menjadi US$ 6,54 miliar. Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari komoditas nikel juga mencapai Rp 21 triliun hingga 31 Agustus 2026, naik dari Rp 10 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga
Laba Vale (INCO) Melesat 313,5% di Semester I, Manajemen Ungkap Penopang Ini
Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai, peningkatan tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi telah menciptakan nilai tambah bagi perekonomian nasional. Meski demikian, sebagian besar pengolahan nikel masih menghasilkan produk antara, seperti nickel pig iron (NPI) dan feronikel, yang banyak digunakan dalam industri baja nirkarat.
“Ini merupakan fondasi industrialisasi, tetapi belum menjadi tujuan akhir. Tahap berikutnya adalah memperpanjang rantai produksi hingga prekursor, katoda, sel baterai, dan manufaktur akhir yang melibatkan lebih banyak pemasok dalam negeri," kata Yusuf dikutip Senin (5/10/2026).
Pengembangan industri nikel melalui sejumlah proyek pengolahan menjadi salah satu jalur untuk memperluas rantai nilai tersebut. PT Vale Indonesia Tbk (INCO), perusahaan pertambangan dan pengolahan nikel yang berada dalam ekosistem Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID, mengembangkan proyek yang diarahkan untuk memasok kebutuhan bahan baku industri baterai kendaraan listrik.
Sejumlah proyek tersebut dikembangkan melalui teknologi high pressure acid leach (HPAL), yakni proses pelindian menggunakan asam pada tekanan dan suhu tinggi untuk mengolah bijih nikel berkadar rendah menjadi bahan baku baterai. Proyek-proyek Vale Indonesia di Pomalaa, Morowali, dan Sorowako memiliki kapasitas produksi gabungan sekitar 240.000 ton mixed hydroxide precipitate (MHP) per tahun. MHP merupakan produk antara yang mengandung nikel dan kobalt untuk diproses lebih lanjut dalam rantai produksi baterai.
Vale Indonesia menyebut program investasi strategisnya di Indonesia mencapai US$ 7,2 miliar. Di Pomalaa, proyek HPAL dikembangkan melalui PT Kolaka Nickel Indonesia bersama Ford Motor Co. dan Zhejiang Huayou Cobalt dengan nilai investasi sekitar US$ 4,5 miliar. Proyek tersebut dirancang menghasilkan MHP dengan kandungan nikel hingga 120.000 ton per tahun.
Yusuf menilai proyek HPAL memiliki arti penting karena menawarkan jalur pengolahan yang berbeda dari produksi nikel untuk kebutuhan baja nirkarat. Teknologi tersebut memungkinkan bijih limonit, salah satu jenis bijih nikel berkadar relatif rendah, diolah menjadi bahan baku nikel kelas 1 yang dibutuhkan dalam industri baterai kendaraan listrik.
Baca Juga
Laba Melesat 313%, Vale (INCO) Pertimbangkan Dividen Interim?
“Selain memperluas pemanfaatan sumber daya, proyek ini juga membuka akses ke rantai pasok global yang lebih beragam. Namun, MHP tetap merupakan produk antara. Dampak proyek tersebut terhadap industrialisasi akan lebih besar apabila MHP diproses lebih lanjut di Indonesia menjadi prekursor, katoda, dan sel baterai," sambungnya.
Pengembangan proyek HPAL menjadi bagian dari upaya memperluas pemanfaatan sumber daya nikel di dalam negeri. Pengolahan bijih menjadi MHP membuka akses ke pasar bahan baku baterai, tetapi nilai tambah yang diperoleh Indonesia masih bergantung pada tahapan produksi yang berlangsung setelah produk tersebut dihasilkan.
