Urgen Arahkan Hilirisasi Nikel untuk Baterai Listrik
JAKARTA, Investortrust.id - Penjualan mobil listrik kembali mencatat rekor tahun 2022, meski ada gangguan rantai pasokan, ketidakpastian ekonomi makro dan geopolitik, serta harga komoditas dan energi yang tinggi. Yang lebih menarik, pertumbuhan penjualan mobil listrik terjadi di tengah pasar total mobil global terkontraksi 0,9% menjadi 66,1 juta, dibanding tahun 2021.
Penjualan mobil listrik baterai atau battery electric vehicle (BEV) dan mobil listrik plug-in hybridelectric vehicle (PHEV) di atas 10 juta tahun lalu, melonjak 55% dibanding pada 2021. Secara umum di dunia, electric vehicle (EV) digunakan untuk merujuk pada BEV dan PHEV, tidak termasuk fuel cell electric vehicle.
Baterai lithium-ion tercatat merupakan jenis baterai yang digunakan di hampir semua EV. Lima mineral penting yang digunakan sebagai bahan utama baterai EV adalah litium, nikel, kobalt, mangan, dan grafit. Indonesia diuntungkan karena memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, sama seperti Australia, sedangkan di urutan ketiga adalah Brasil.
Berbeda dengan BEV, PHEV menggunakan dua sumber daya, yakni baterai dan bahan bakar minyak (BBM). Mobil hibrid ini tidak sepenuhnya menggunakan tenaga baterai listrik, namun mengombinasikan kinerja mesin konvensional atau mesin pembakaran dalam (internal combustion engine/ICE) dengan baterai listrik. Daya baterai diisi menggunakan power outlet, dan saat daya baterai habis, mobil akan menggunakan ICE.
Tumbuh Eksponensial
Penjualan EV global tahun 2022 tercatat sebanyak 10 juta, melebihi jumlah total mobil yang terjual di seluruh Uni Eropa (sekitar 9,5 juta unit) dan hampir setengah dari jumlah total mobil dijual di Tiongkok. Hanya dalam waktu lima tahun, dari 2017 hingga 2022, penjualan EV melonjak dari sekitar 1 juta menjadi lebih dari 10 juta, atau tumbuh sekitar 180% per tahun. Sebelumnya, butuh waktu lima tahun dari 2012 hingga 2017 untuk penjualan EV tumbuh dari 100.000 menjadi 1 juta, yang menunjukkan sifat eksponensial.
Alhasil, pangsa mobil listrik dalam penjualan total mobil melonjak dari 9% pada 2021 menjadi sekitar 15% pada 2022. Ini lebih dari 10 kali lipat pangsa pada 2017. Penjualan mobil listrik dunia yang terus meningkat pesat ini terbanyak di Tiongkok.
Peningkatan penjualan mendorong jumlah mobil listrik di jalan raya dunia menjadi 26 juta, naik 60% dibandingkan tahun 2021, dengan BEV menyumbang lebih dari 70% dari total pertumbuhan tahunan. Berdasarkan laporan International Energy Agency, sekitar 70% stok global mobil listrik pada tahun 2022 adalah BEV.
Pertumbuhan penjualan mobil listrik bervariasi di berbagai negara, dengan Tiongkok tetap mendominasi. Pada tahun 2022, penjualan BEV di RRT naik 60% menembus 4,4 juta dibandingkan tahun 2021, sedangkan penjualan PHEV hampir tiga kali lipat menjadi 1,5 juta unit. Pertumbuhan yang lebih cepat dalam penjualan PHEV terhadap BEV ini masih memerlukan kajian lebih lanjut ke depan, karena penjualan PHEV masih tetap lebih rendah dan terlambat dalam 'mengejar' booming pasca-Covid-19. Pasalnya, penjualan BEV di RRT sudah meningkat tiga kali lipat dari tahun 2020 hingga 2021.
Hydrogen Fuel Cell Car
Sementara itu, InsideEVs mencatat, hydrogen fuel cell electric vehicle atau FCEV masih harus 'berjuang keras' di California dan secara umum bisa dikatakan tetap absen di Amerika Serikat. Menurut data Hydrogen Fuel Cell Partnership, penjualan mobil bahan bakar hidrogen ini bahkan menurun pada 2022 sebesar 19% year on year menjadi 2.707, dari rekor tertingginya 3.341 tahun 2021. FCEV merupakan solusi mobil nol emisi alternatif BEV. Penjualannya disumbang Toyota Mirai sebanyak 2.094 unit (anjlok 20%), Hyundai Nexo 408 unit (turun 5%), dan model lain 205 unit (merosot 27%).
FCEV jauh kalah kompetitif dibanding BEV. Itu sebabnya, pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu menilai Indonesia sudah tepat mengembangkan mobil listrik berbasis baterai BEV, yang lebih aman, efisien, dan murah ketimbang FCEV. Indonesia juga memiliki sumber daya mineral cukup banyak untuk pembuatan baterai, terutama nikel yang merupakan bahan baku paling umum digunakan dalam baterai mobil listrik. Selain dapat meningkatkan nilai tambah, pengembangan industri baterai listrik akan mengurangi ketergantungan pada komponen impor.
7 Provinsi Tambang Nikel
Di sisi pertambangan nikel, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat luasnya sekitar 520.877 hektare (ha). Tambang tersebut tersebar di tujuh provinsi, yakni Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara.
Berdasarkan data Dirjen Minerba, terdapat total 292 Izin Usaha Pertambangan (IUP) nikel yang tersebar di Indonesia tahun 2020. Sedangkan berdasarkan laporan US Geological Survey, Mineral Commodity Summaries tahun 2023, cadangan nikel RI 21 juta ton, 21% dari total cadangan dunia sekitar 100 juta ton. Australia juga memiliki cadangan nikel sebanyak Indonesia.
Sementara itu, Kementerian ESDM mencatat, cadangan bijih nikel jenis saprolit (berkadar nikel tinggi lebih dari 1,5%) di Nusantara sekitar 2,6 miliar ton pada 2020. Sedangkan untuk bijih nikel jenis limonit (berkadar nikel rendah kurang dari 1,5%), cadangannya sebesar 1,7 miliar ton. Total keduanya sekitar 4,3 miliar ton.
Saprolit diolah melalui smelter teknologi pirometalurgi (Rotary Kiln-Electric Furnace/RKEF), yang biasanya menghasilkan feronikel (FeNi) dan nickel pig iron (NPI) atau feronikel berkadar rendah. Sedangkan limonit diolah melalui smelter berteknologi hidrometalurgi (High Pressure Acid Leaching/HPAL), yang umumnya menghasilkan bahan baku baterai listrik.
Selama ini, nikel di Indonesia lebih banyak untuk memproduksi nikel kelas 2 NPI. Produksi NPI di Tanah Air sudah luber sedangkan nilai tambah masih belum signifikan, sehingga Kementerian Perindustrian (Kemenperin) pun mendukung wacana kebijakan moratorium izin baru smelter yang memproduksi NPI, guna mendorong pengembangan hilirisasi nikel lebih lanjut ke baterai listrik.
Moratorium izin baru smelter NPI akan mendorong investasi bergeser ke pengolahan nikel yang lebih hilir dan bernilai tambah tinggi. Sebaliknya, bila investasi terus dibuka untuk smelter yang produksinya hanya sampai NPI, bisa terjadi persaingan tidak sehat ‘predator’ memperebutkan tambang nikel.
NPI tercatat kandungan nikelnya cuma 10-12%, sehingga ekspornya bisa diartikan hanya meloloskan mineral strategis ini keluar dari Indonesia tanpa melakukan hilirisasi lanjutan. NPI bisa diolah menjadi produk yang lebih hilir, menjadi stainless steel HRC, stainless steel CRC, stainless steel slab, dan stainless steel billet. Jika diproses lagi, nikel bisa menghasilkan produk stainless steel rod/bar, stainless steel seamless pipe, hingga stainless steel bolt & nut.
Namun, berdasarkan data yang dihimpun Kemenperin, dari 34 smelter nikel pirometalurgi yang beroperasi, hanya ada 4 smelter yang produksinya diproses lebih lanjut menjadi stainless steel di dalam negeri. Kapasitas produksi stainless steel sekitar 31,66 juta ton per tahun.
Lubernya produksi NPI ini antara lain berdampak harga NPI semakin tertekan. Padahal, berdasarkan data Kementerian ESDM, masih ada 37 smelter pirometalurgi yang sedang konstruksi dan bisa memproduksi 90,88 juta ton dan 27 smelter lainnya direncanakan dibangun.
Itulah sebabnya yang urgen didorong adalah investasi pembangunan smelter hidrometalurgi yang mengolah nikel untuk menghasilkan produk bahan baku baterai listrik, yang bisa terus didorong hilirisasinya sampai menghasilkan baterai. Di sisi lain, semakin hilir produk yang akan diproduksi, semakin rumit teknologinya dan investasinya juga lebih besar.
Smelter teknologi HPAL yang menghasilkan bahan baku baterai diperkirakan membutuhkan dana sekitar US$ 1 miliar (Rp 15 triliun), atau bisa lebih. Untuk persoalan pendanaan, pemerintah pun sudah mempertemukan pihak perusahaan dengan perbankan untuk melihat peluang potensi pengembangan smelter nikel yang prospeknya lebih kinclong.

