Harga Emas Pulih dari Level Terendah 8 Minggu, Ini Pemicunya
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dunia pulih dari level terendah delapan minggu US$ 4.180 pada sesi awal perdagangan Asia, Rabu (30/9/2026). Namun, ruang kenaikan emas masih terbatas karena lonjakan harga minyak meningkatkan kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat oleh Federal Reserve AS (The Fed). Pelaku pasar mencari petunjuk mengenai arah suku bunga bank sentral AS di tengah tekanan inflasi dan kenaikan biaya energi.
Imbal hasil Treasury AS bertenor 30 tahun telah menembus 5,61% pada Selasa (29/9/2026) dan mencapai level yang terakhir terlihat pada 2002. Sementara itu, imbal hasil Treasury bertenor dua tahun yang lebih sensitif terhadap perubahan ekspektasi kebijakan Fed sempat turun hingga 5 basis poin sebelum stabil di sekitar 4,88%.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Turun Rp 16.000 di Tengah Penguatan Dolar AS
Kenaikan imbal hasil obligasi membuat emas menghadapi tekanan karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil berkala. Ketika suku bunga dan yield meningkat, biaya peluang memegang emas menjadi lebih tinggi dibandingkan aset berbasis bunga.
Di sisi lain, kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan inflasi karena mendorong biaya produksi dan transportasi di berbagai sektor ekonomi. Kondisi tersebut dapat membuat bank sentral mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.
"Ekspektasi yang tinggi terhadap kenaikan suku bunga Fed lebih lanjut membuat dolar tetap menguat, imbal hasil tetap tinggi. Saya pikir potensi kenaikan mungkin agak terbatas hari ini dan pasar akan tetap fokus pada data inflasi PCE (price consumer index) besok dan data pekerjaan pada Jumat (2/10/2026)," kata Grant.
Pasar Menanti Data PCE dan NFP
Pelaku pasar selanjutnya menunggu data Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi atau personal consumption expenditures (PCE) AS untuk Agustus. Data tersebut menjadi salah satu indikator yang diperhatikan Fed dalam membaca tekanan inflasi.
Pergerakan emas juga akan dipengaruhi oleh laporan ketenagakerjaan AS, terutama nonfarm payrolls (NFP). Data tersebut akan memberikan gambaran mengenai kondisi pasar tenaga kerja dan dapat memengaruhi ekspektasi investor terhadap arah kebijakan suku bunga Fed.
Jika data ekonomi AS menunjukkan pelemahan, dolar AS berpotensi mengalami tekanan. Kondisi tersebut dapat memberikan ruang bagi komoditas yang dihargai dalam dolar AS, termasuk emas, untuk bergerak lebih tinggi.
Sebaliknya, data ekonomi yang tetap kuat dapat mempertahankan ekspektasi suku bunga tinggi dan menjaga imbal hasil obligasi Pemerintah AS di level tinggi. Kondisi tersebut berpotensi membuat emas menghadapi tekanan lanjutan.
Harga emas sebelumnya telah merosot ke level terendah tujuh minggu karena kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi AS memperkuat tekanan jual.
Baca Juga
Antam (ANTM) Perkuat Rantai Pasok Emas Nasional, Serap 9 Ton dari Freeport
Strategis komoditas OCBC menilai pelemahan emas berlanjut karena kenaikan harga minyak memperbesar kekhawatiran terhadap inflasi dan memperkuat ekspektasi pengetatan kebijakan Fed.
OCBC juga menyoroti bahwa kenaikan imbal hasil obligasi Pemerintah AS dan penguatan dolar AS menambah tekanan terhadap emas. Penurunan harga di bawah level US$4.200 berpotensi memperbesar tekanan teknikal terhadap logam mulia tersebut.
Dalam jangka pendek, OCBC melihat pergerakan harga minyak dan respons pasar terhadap kebijakan suku bunga sebagai faktor penting bagi emas. Data ekonomi AS yang lebih lemah, termasuk PCE inti dan NFP, atau penurunan imbal hasil obligasi dapat memberikan ruang bagi harga emas untuk stabil. Sebaliknya, kenaikan harga minyak yang berlanjut bersama dengan imbal hasil obligasi AS yang tetap tinggi dapat mempertahankan tekanan terhadap harga emas.
