Harga Emas Naik 2,4%, Pulih dari Level Terendah 6 Minggu
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas naik lebih 2% pada perdagangan Kamis (17/9/2026), pulih dari level terendah hampir enam minggu pada sesi sebelumnya, setelah penurunan harga minyak dan pelemahan dolar AS. Investor juga mencermati keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan arah kebijakan moneter AS.
Harga emas spot naik 2,4% menjadi US$ 4.364,29 per ons. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember naik 0,4% menjadi US$ 4.404,80 per ons.
Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures David Meger mengatakan penurunan harga energi membantu meredakan tekanan inflasi yang menjadi salah satu faktor penting dalam pergerakan harga emas.
Baca Juga
Freeport Proyeksikan Produksi Tambang Naik, Targetkan 21 Ton Emas pada 2026
“Terkait erat hubungan terbalik antara harga emas dan tekanan inflasi yang ditimbulkannya. Harga energi turun cukup drastis hari ini. Jadi, harga energi yang lebih rendah inilah yang mengurangi sebagian tekanan pada pasar emas,” kata Meger dilansir CNBC.
Harga minyak melanjutkan penurunan untuk hari kedua berturut-turut hingga mencapai level terendah dalam satu minggu. Pasar merespons berkurangnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi.
Pada saat yang sama, dolar AS melemah dari level tertinggi tujuh minggu. Kondisi tersebut membuat emas yang dihargai dalam dolar AS menjadi lebih terjangkau bagi pemegang mata uang lainnya.
Imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun juga turun pada perdagangan Kamis. Penurunan imbal hasil mengurangi biaya peluang bagi investor yang memegang emas, karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga. Sebaliknya, kenaikan imbal hasil obligasi biasanya meningkatkan daya tarik aset berbunga dan dapat menekan permintaan emas.
Pergerakan pasar tersebut terjadi setelah The Fed menaikkan suku bunga pada Rabu (16/9/2026) dan memberikan sinyal mengenai kemungkinan kenaikan lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang.
Ketua The Fed Kevin Warsh bergabung dalam keputusan bulat tersebut. Kebijakan itu mencerminkan perhatian pembuat kebijakan terhadap tekanan inflasi yang masih menjadi tantangan bagi perekonomian AS.
Para pedagang kini memperkirakan peluang 51% untuk kenaikan suku bunga AS berikutnya ketika bank sentral bertemu pada Oktober. Angka tersebut meningkat dari hampir 44% pada hari sebelumnya, menurut alat CME FedWatch.
Emas secara umum dipandang sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Namun, lingkungan suku bunga tinggi dapat mengurangi daya tarik logam mulia karena investor memiliki pilihan aset lain yang menghasilkan bunga. Meski demikian, UBS memperkirakan sejumlah faktor makroekonomi masih dapat menopang harga emas dalam jangka lebih panjang.
Baca Juga
Harga Emas Dunia Turun 1,2% Seusai The Fed Naikkan Suku Bunga
“Meningkatnya defisit fiskal, beban utang yang lebih tinggi, kemungkinan melemahnya dolar AS, dan ekspektasi kami bahwa The Fed akan melanjutkan pelonggaran kebijakan moneter tahun depan seharusnya mendukung harga emas meskipun terjadi volatilitas jangka pendek,” kata UBS dalam sebuah catatan.
Selain The Fed, pelaku pasar juga mencermati keputusan bank sentral lain terkait arah suku bunga global. Bank of England mempertahankan suku bunga tidak berubah pada Kamis.
Sementara itu, Bank of Japan diperkirakan menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun pada Jumat (18/9/2026). Pasar juga menunggu sinyal mengenai kesiapan bank sentral Jepang untuk melanjutkan kenaikan biaya pinjaman.
