REI: Target 350.000 KPR Subsidi 2026 Tak Bisa Dicapai, Mentok 300.000
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Dewan Pengurus Pusat Realestat Indonesia (DPP REI) memperkirakan realisasi Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) atau rumah subsidi pada 2026 maksimal hanya mencapai 300.000 unit dari target pemerintah sebanyak 350.000 unit.
Wakil Ketua Umum DPP REI, Maria Nelly Suryani menyatakan, target 350.000 unit sulit dicapai jika melihat kondisi pengembang serta waktu yang dibutuhkan untuk membangun rumah subsidi.
"Benar enggak 350.000 (realisasi KPR FLPP) dengan berbagai effort, katakan kita punya tongkat sulap, bisa enggak? Enggak bisa," kata Maria dalam rapat evaluasi kinerja KPR FLPP Tahun 2026 di kantor BP Tapera, Jakarta, Senin (28/9/2026).
Baca Juga
Maria menyebutkan, REI menggunakan data dari para anggota dalam memperkirakan realisasi KPR subsidi. Dikatakan, pembangunan rumah subsidi tapak di daerah membutuhkan waktu sekitar 6-12 minggu hingga dapat dilakukan akad.
"Tidak semua, seperti Jabodetabek sambil ditelepon bisa tiba (bahan bangunannya). Kami itu butuh kirim material dan lain sebagainya. Jadi produktivitas kami itu 3 bulan itu sampai dengan akad," ungkap dia.
Maria menyoroti persoalan Lahan Sawah Dilindungi (LSD) yang berdampak pada land bank milik pengembang rumah subsidi. Ia mengungkap lebih dari 120 pengembang anggota REI di Jawa Timur yang terdampak persoalan tersebut.
Selain Jawa Timur, realisasi KPR FLPP di Nusa Tenggara Barat (NTB) turut menjadi sorotan. Menurut Maria, realisasi KPR FLPP di wilayah tersebut turun dari sekitar 5.200 unit pada tahun 2025 menjadi sekitar 2.100 unit di 2026. "NTB juga yang tadinya itu bagus tahun lalu kita lihat 5.200 sekian (realisasi KPR FLPP), sekarang cuma 2.100 (unit)," papar dia.
Berdasarkan data BP Tapera, realisasi KPR FLPP hingga 28 September 2026 mencapai 160.070 unit atau 45,73% dari target 350.000 unit. Nilai kredit yang disalurkan mencapai Rp 19,98 triliun. Realisasi tersebut turun 12,56% secara year to date (YtD) dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 183.058 unit. Dari total realisasi tersebut, sebanyak 160.053 unit merupakan rumah tapak dan 17 unit merupakan rumah susun.
Maria mengatakan, angka 160.070 unit yang tercatat BP Tapera masih berpotensi bertambah. Berdasarkan pengalaman REI, terdapat sekitar 18.000-23.000 unit yang masih dalam proses penagihan dari bank penyalur kepada BP Tapera karena telah melakukan akad tetapi belum masuk dalam angka realisasi BP Tapera.
"160.070 unit masih harus dihitung tambahan antara rata-rata pengalaman dari kami adalah sekitar 18.000 sampai 23.000 (unit) yang masih dalam proses penagihan di bank kepada Tapera," imbuh dia.
REI memperkirakan tambahan realisasi pada periode berikutnya berada di kisaran 65.000-70.000 unit. Perkiraan tersebut mengacu pada realisasi sekitar 180.000 unit dalam tiga kuartal. Dengan demikian, rata-rata realisasi berada di kisaran 60.000 unit per triwulan. "180.000 (unit) itu 3 triwulan, artinya dari pengalaman ini rata-rata itu 60.000-an (unit), maka berikutnya ada di angka 65 sampai 70.000 (unit)," ucap Maria.
Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, Maria menyebut realisasi KPR FLPP 2026 diperkirakan berada di kisaran 280.000 unit hingga maksimal 300.000 unit. "Kalau bisa dapat 280.000 (unit) itu sudah upaya semua maksimal berkontribusi dengan catatan tidak menghitung lagi proses pembangunan itu. Angka 280.000 unit atau maksimumnya 300.000 (realisasi KPR FLPP 2026) lah, ada mimpi kita usahakan di situ," sambung Maria.
Sementara itu, BP Tapera mencatat terdapat potensi permintaan sebanyak 48.679 unit yang saat ini berada dalam berbagai tahapan proses perbankan. Perinciannya, sebanyak 14.998 unit telah diproses perbankan dan lolos subsidi checking, 5.922 unit dalam proses analisis kredit, 2.783 unit telah mendapatkan Surat Penegasan Persetujuan Penyediaan Kredit (SP3K), 19.764 unit berada dalam proses trilogi, dan 5.212 unit telah melakukan akad kredit.
Baca Juga
Realisasi KPR Subsidi Turun 15% YoY, BP Tapera Ungkap Penyebabnya
Komisioner BP Tapera, Heru Pudyo Nugroho menekankan, potensi permintaan tersebut akan diakselerasi dalam satu bulan ke depan. "Potensi dari sisi permintaan ini ada 48.679 (unit), yang tadi sudah kita sampaikan, kita kerjakan bersama bagaimana supaya diakselerasi dalam kurun waktu satu bulan ke depan sudah ada tambahan realisasi 48.679 (unit) ini," kata dia.
Dari sisi suplai, BP Tapera mencatat terdapat 2.135 unit rumah tapak subsidi yang masih dalam proses pembangunan. Kemudian, sebanyak 24.001 unit rumah tapak dan 2.029 unit rumah susun berstatus ready stock. Heru juga menyampaikan, data tersebut telah melalui proses cleansing sehingga terdapat potensi pasokan yang dapat dipertemukan dengan permintaan sebanyak 28.165 unit.
Di sisi lain, Maria menyebut pelaksanaan akad massal sebanyak 71.000 unit pada 17 Desember 2026 di Jawa Timur menjadi salah satu momentum yang diharapkan dapat mendorong realisasi. "Kalau itu tercapai saya hitung ada peningkatan 132 unit dibanding tahun sebelumnya," tutur dia.
