Furnitur RI Surplus US$473 Juta, IFFINA 2026 Dorong Ekspansi Global
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pameran Indonesian Furniture Industry and Handicraft Association (IFFINA) 2026 menjadi momentum industri furnitur Indonesia memperluas pasar di tengah ketidakpastian ekonomi global. Hingga akhir 2025, ekspor industri furnitur Indonesia capai US$ 2,2 miliar dengan surplus perdagangan US$ 473 juta.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, IFFINA penting untuk mengurangi ketergantungan ekspor pada pasar tertentu. Pameran juga membuka peluang hubungan langsung antara produsen Indonesia dan pembeli global.
“Penyelenggaraan IFFINA hari ini menjadi penting sebagai salah satu bentuk sarana memitigasi risiko dengan jalan memperluas pasar, membangun hubungan langsung dengan pembeli internasional, serta mengurangi ketergantungan ekspor pada pasar-pasar tertentu,” kata Airlangga secara virtual di NICE PIK 2, Banten, Kamis (24/9/2026).
Baca Juga
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.916 per Dolar AS, BI Beri Penjelasan
Airlangga mengatakan bahwa industri pengolahan masih menjadi penopang utama ekonomi nasional. Sektor tersebut berkontribusi 18,5% terhadap perekonomian Indonesia. "Industri furnitur mencatat pertumbuhan double digit sebesar 11,82%. Angka tersebut menunjukkan ruang ekspansi industri furnitur masih terbuka," sambung Airlangga.
Dia menilai bahwa Indonesia memiliki peluang meningkatkan pangsa pasar furnitur global. Penguatan kualitas, desain, keberlanjutan produk, promosi dagang, dan jejaring dengan buyer internasional menjadi kunci.
Neraca perdagangan industri furnitur Indonesia juga tercatat surplus sejak 2021. Pada 2025, ekspor furnitur mencapai US$2,2 miliar dengan impor US$1,9 miliar sehingga surplus mencapai US$473 juta. Indonesia saat ini berada di peringkat ke-25 eksportir furnitur dunia. Amerika Serikat menjadi pasar penting dengan menyerap sekitar 60% ekspor furnitur Indonesia.
Baca Juga
Anindya Bakrie: RUU Kadin Harus Membuat Pengusaha Daerah Naik Kelas
Airlangga mengatakan pengembangan desain perlu mengikuti perubahan selera konsumen global. Permintaan semakin mengarah pada furnitur fungsional dengan material ramah lingkungan berbasis kayu dan rotan.
Peluang tersebut didukung ketersediaan bahan baku domestik. Indonesia menghasilkan lebih dari 80% rotan dunia yang menjadi salah satu material unggulan industri furnitur.
Perkuat peluang bisnis global
Secara terpisah Ketua Umum Asmindo, Dedy Rochimat mengatakan bahwa acara ini sekaligus memperkuat peluang bisnis dari sisi pasar lokal. Pelaku usaha kini menggabungkan proyek ekspor dengan proyek domestik karena permintaan ekspor masih menghadapi tekanan.
Managing Director dan Regional President APAC Koelnmesse, Mathias Kuepper juga mengatakan, kekuatan IFFINA terletak pada integrasi seluruh rantai nilai furnitur. Pameran tersebut mempertemukan mesin, material, hardware, hingga produk furnitur jadi dalam satu ekosistem.
Baca Juga
Menko Airlangga Ajak Pelaku Usaha ASEAN-Kanada Maksimalkan Implementasi Perjanjian ICA-CEPA
“Apa yang membuat pameran ini unik adalah semua satu ekosistem,” kata Mathias. Baginya, konsep tersebut membuka lebih banyak diskusi dan peluang di antara berbagai segmen industri.
Pemerintah berharap IFFINA menghasilkan transaksi, kemitraan, dan perluasan akses pasar internasional. Pelaku industri juga didorong memanfaatkan pameran untuk memperkuat jejaring dan membaca perubahan pasar global.
Dengan integrasi lebih dari 500 exhibitor dan rantai nilai dari hulu hingga hilir, IFFINA 2026 diarahkan menjadi pintu penguatan pasar furnitur Indonesia. "Targetnya tidak hanya transaksi selama pameran, tetapi juga terbentuknya kemitraan dan akses pasar regional maupun global," tutup Dedy.
