Impor Furnitur Naik 37%, Asmindo Bidik Pasar Lokal dan Fokus ke Desain Unik
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Industri furnitur Indonesia merespons tekanan pasar ekspor di tengah lonjakan impor hingga sekitar 37% pada Juli 2024. Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) melihat kondisi tersebut sebagai sinyal besarnya potensi pasar domestik.
Ketua Umum Asmindo, Dedy Rochimat mengatakan, ekspor furnitur hingga Juli 2024 relatif stabil. Namun, impor meningkat jauh lebih tinggi dibandingkan ekspor.
“Ekspornya masih hampir sama, hanya kalah sekitar 1,5% di bulan Juli 2024. Tapi impor kita memang luar biasa naik, hampir 40%, hampir ya, 37%,” kata Dedy di NICE PIK 2, Banten, Kamis (24/9/2026).
Menurut Dedy, tingginya impor sekaligus menunjukkan pasar Indonesia masih menarik bagi produsen furnitur global.
Di sisi lain, kondisi pasar ekspor yang belum kuat membuat pelaku industri mulai menggarap pasar domestik. Asmindo pun kini menggabungkan proyek ekspor dengan proyek lokal.
Dedy mengatakan pasar lokal masih memiliki ruang pertumbuhan yang relatif besar. Peluang datang dari proyek pemerintah, perusahaan swasta, hingga investasi perusahaan multinasional di Indonesia.
Baca Juga
Pemerintah 'Pede' Industri Furnitur RI Siap Terapkan Regulasi EUDR Tahun Depan
Dari sisi produk rumah tangga, ruang keluarga menjadi segmen terbesar. "Porsinya lebih dari 30%, kemudian disusul furnitur ruang makan dan kamar tidur," katanya.
Desain furnitur unik untuk daya saing
Asmindo menilai bahwa struktur industri furnitur nasional juga masih didominasi usaha kecil dan menengah. Dedy memperkirakan sekitar 98%-99% pelaku industri merupakan UMKM.
Ia mengakui bahwa Indonesia belum terlalu kuat bersaing dengan China dan Vietnam untuk produk massal. Namun, produk handmade dan furnitur dengan desain unik menjadi salah satu keunggulan Indonesia.
“Kalau kita konsentrasi ke uniqueness aja, lumayan ya, bisa bersaing lah. Apalagi yang handmade,” ujar Dedy. Keunggulan tersebut didukung ketersediaan rotan, bambu, dan kayu sebagai material lokal.
Dedy juga melihat peluang dari masuknya investasi baru ke Indonesia. Pembangunan kantor dan fasilitas baru berpotensi meningkatkan permintaan furnitur lokal.
