Indonesia Kembangkan Desain Cip untuk Perkuat Industri Semikonduktor
JAKARTA, Investortrust.id - Indonesia mengembangkan industri desain cip untuk mengurangi ketergantungan impor semikonduktor sekaligus membuka jalan masuk ke rantai pasok teknologi global. Strategi ini menempatkan pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan kolaborasi antara perguruan tinggi dengan industri sebagai fondasi awal sebelum Indonesia membangun kemampuan produksi cip yang lebih kompleks.
Di tengah meningkatnya kebutuhan cip untuk kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), otomotif, dan energi, kemampuan merancang semikonduktor menjadi bagian penting dari daya saing industri nasional. Negara yang mampu menguasai teknologi memiliki peluang besar mengembangkan produk bernilai tambah tinggi dan memperkuat posisi dalam persaingan industri global.
Tekanan terhadap pasokan cip global kembali terlihat pada kuartal III 2026. International Data Corporation (IDC), perusahaan riset pasar teknologi global, melaporkan pengiriman komputer pribadi dunia turun 20,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, Counterpoint Research mencatat pengiriman ponsel pintar turun sekitar 20%, menjadi yang terendah untuk kuartal ketiga sejak 2012.
Salah satu penyebab tekanan tersebut adalah meningkatnya kebutuhan cip untuk pusat data AI. Produsen semikonduktor memprioritaskan produk untuk mendukung komputasi AI, sehingga pasokan bagi perangkat elektronik konsumen dan industri otomotif ikut tertekan. Kondisi ini mendorong kenaikan harga dan meningkatkan risiko gangguan produksi bagi industri yang bergantung pada komponen tersebut.
Sejumlah eksekutif industri memperkirakan kekurangan cip dapat berlanjut hingga 2028. Perkembangan ini memperlihatkan bahwa semikonduktor tidak hanya menjadi komponen pendukung teknologi, tetapi juga faktor strategis yang memengaruhi keberlangsungan produksi dan daya saing industri suatu negara.
Baca Juga
Manfaatkan Berkah Pajak Semikonduktor, Korea Selatan Bentuk “Future Fund”
Kondisi tersebut sebelumnya telah menjadi perhatian Menteri Perindustrian saat itu, Agus Gumiwang Kartasasmita. Ia menilai tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor semikonduktor sebagai sinyal penting bagi terbentuknya ekosistem industri semikondutor dalam rangka memperkuat ketahanan industri nasional.
Menurut Agus, ketergantungan terhadap pasokan luar negeri perlu dijawab melalui langkah konkret untuk membangun kemampuan industri semikonduktor di dalam negeri. Pengembangan tersebut membutuhkan strategi yang disesuaikan dengan kapasitas teknologi, kesiapan sumber daya manusia, dan kemampuan industri nasional.
Penjajakan Kementerian Perindustrian dengan pelaku industri semikonduktor global dimulai melalui partisipasi Indonesia dalam Hannover Messe 2022, pameran industri internasional di Jerman. Dari kegiatan tersebut, Kementerian Perindustrian memetakan peluang yang paling realistis bagi Indonesia untuk memasuki rantai pasok semikonduktor dunia.
Agus menyebut pendekatan tersebut sebagai strategi awal yang realistis dan terukur. Indonesia tidak langsung diarahkan untuk membangun seluruh tahapan industri semikonduktor, melainkan memulai dari bidang yang memiliki peluang untuk dikembangkan dengan kapasitas yang tersedia.
Desain Cip Jadi Pintu Masuk
Atas prakarsa Agus, Kementerian Perindustrian kemudian menyusun peta jalan pengembangan industri semikonduktor yang mencakup material, desain, fabrikasi, serta perakitan, pengujian, dan pengemasan chip.
Dari sejumlah tahapan tersebut, desain cip dan pengembangan talenta ditempatkan sebagai penggerak awal. Pertimbangannya, Indonesia telah memiliki fasilitas perakitan dan pengujian semikonduktor di Batam serta satu perusahaan desain sirkuit terpadu yang telah masuk ke dalam rantai pasok global.
Desain cip menjadi pilihan karena segmen ini mengandalkan pengetahuan, riset, dan kemampuan sumber daya manusia. Sebaliknya, fabrikasi wafer, yaitu proses pembuatan cip pada lembaran tipis bahan semikonduktor, membutuhkan fasilitas industri berteknologi tinggi dan investasi besar yang belum dimiliki Indonesia.
"Fokus awal kami adalah menyiapkan SDM yang mampu mendesain cip," ujar Agus dalam Rapat Kerja dengan Komisi VII DPR pada Januari 2026.
Ia menegaskan pengembangan industri semikonduktor tidak dapat dilakukan secara instan. Pembangunan kemampuan nasional harus berlangsung secara bertahap, konsisten, dan berkesinambungan agar Indonesia memiliki fondasi teknologi yang dapat dikembangkan dalam jangka panjang.
Untuk menjalankan strategi tersebut, Kementerian Perindustrian memprakarsai Indonesia Chip Design Collaborative Center (ICDEC) pada 2023 bersama PT Hartono Istana Teknologi atau Polytron dan pakar desain cip dari 13 universitas terkemuka di Indonesia.
ICDEC dibentuk sebagai organisasi nirlaba yang mengandalkan kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan mitra global, bukan bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Lembaga ini diarahkan untuk mempertemukan kebutuhan industri dengan kemampuan riset dan pendidikan di perguruan tinggi.
Dalam perkembangannya, ICDEC telah menjalin kemitraan dengan 16 perguruan tinggi dan tujuh pelaku industri.
Pada Januari 2026, Agus meresmikan fasilitas ICDEC di ITB Innovation Park, Bandung, bersamaan dengan penyelenggaraan Indonesia Semiconductor Summit 2026. Kehadiran fasilitas tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat infrastruktur pengembangan desain chip dan memperluas kolaborasi antara dunia pendidikan dengan industri.
Tiga bulan kemudian, ICDEC menandatangani kerja sama dan surat minat pengembangan sumber daya manusia dengan Intel, National Taiwan Normal University, dan President University. Kemitraan ini diarahkan untuk memperluas akses terhadap pengetahuan, pelatihan, dan jejaring internasional di bidang semikonduktor.
Pengembangan kompetensi juga dilakukan melalui pelatihan desain chip bersama Polytron, IMEC Belgia, dan Cadence yang dimulai pada Oktober 2024 di Kudus. Selain itu, Kementerian Perindustrian menandatangani nota kesepahaman dengan Apple yang memuat komitmen riset dan pengembangan di Indonesia melalui ICDEC.
Baca Juga
RI-India Perkuat Kerja Sama Industri, Semikonduktor, hingga Kendaraan Listrik
Dikutip dalam keterangannya, Kamis (22/10/2026), Ketua ICDEC Trio Adiono menilai desain cip merupakan titik masuk strategis bagi Indonesia untuk membangun posisi dalam rantai pasok semikonduktor global. Melalui riset dan pendidikan yang konsisten, Indonesia berpeluang menjadi produsen pengetahuan dan talenta, bukan hanya pasar bagi produk teknologi dari negara lain.
Pengembangan kemampuan tersebut juga membutuhkan kesinambungan antara pendidikan, penelitian, dan kebutuhan industri. Ketersediaan tenaga ahli desain chip menjadi salah satu faktor yang menentukan kemampuan Indonesia untuk mengembangkan produk sendiri dan menarik lebih banyak kegiatan bernilai tambah ke dalam negeri.
