Dibiayai Penuh China, Kementrans Buka Slot Pelatihan Pengentasan Kemiskinan untuk Transmigran
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Kementerian Transmigrasi (Kementrans) mendapat kesempatan mengirim peserta untuk mengikuti program pembelajaran pengentasan kemiskinan di China pada 2027 mendatang. Seluruh biaya program tersebut akan ditanggung oleh pihak China.
Menteri Transmigrasi M Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan program tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kapasitas tenaga ahli maupun masyarakat transmigran. Pemerintah juga membuka ruang bagi anggota Komisi V DPR untuk mengusulkan peserta yang dinilai tepat mengikuti program tersebut.
Baca Juga
Kucurkan Rp 1,8 Triliun, Pemerintah Percepat Pengembangan 154 Kawasan Transmigrasi
“Pada tahun depan, Kementerian Transmigrasi memperoleh slot untuk mengikuti program pembelajaran mengenai pengentasan kemiskinan di China yang pembiayaannya sepenuhnya ditanggung oleh pihak China,” kata Iftitah dalam rapat kerja dengan Komisi V DPR di Jakarta, Kamis (24/9/2026).
Menurut Iftitah, kesempatan tersebut tidak hanya ditujukan untuk menambah pengalaman peserta. Pengetahuan dan praktik yang diperoleh selama program diharapkan dapat diterapkan secara langsung di kawasan transmigrasi, terutama dalam pengentasan kemiskinan dan pengembangan aktivitas ekonomi.
“Kami ingin kesempatan ini juga membuka ruang aspirasi bagi pimpinan dan seluruh anggota Komisi V. Apabila Bapak dan Ibu memiliki tenaga ahli atau terdapat warga transmigran dari daerah pemilihan masing-masing yang dinilai tepat dan dapat memperoleh manfaat dari program tersebut, kami persilakan untuk menyampaikan namanya kepada Bapak Sekretaris Jenderal Kementerian Transmigrasi,” ujarnya.
Baca Juga
Kementerian Transmigrasi Temukan Potensi Energi Baru yang Dapat Jadi "Emas" di Sungai Mamberamo
Iftitah menekankan peserta yang diberangkatkan harus mampu membawa pulang manfaat konkret bagi masyarakat. Untuk itu, program tersebut akan diarahkan bukan sekadar sebagai kegiatan pelatihan, tetapi sebagai sarana untuk mempelajari praktik yang dapat disesuaikan dengan kondisi kawasan transmigrasi.
“Kami ingin mereka yang berangkat tidak sekadar mengikuti pelatihan, mereka harus pulang membawa pengetahuan, pengalaman, dan praktik yang dapat diterapkan untuk mengurangi kemiskinan dan menciptakan aktivitas ekonomi baru di kawasan transmigrasi,” ucap Iftitah.
