Menperin: Industri RI Terjepit Tiga Arah, dari Banjir Impor hingga Daya Beli
JAKARTA, investortrust.id – Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan industri nasional tengah menghadapi tekanan dari tiga arah, yakni serbuan barang impor murah, kenaikan biaya produksi akibat harga energi, serta pelemahan daya beli masyarakat.
Menurut Agus, tekanan tersebut menjadi bagian dari empat tantangan utama yang dihadapi industri nasional. Selain tiga tekanan tersebut, industri juga menghadapi dampak kondisi geopolitik yang memengaruhi rantai pasok global.
“Industri kita terjepit dari tiga arah sekaligus dan tentu margin keuntungan tergerus dari atas di-drive ke bawah,” kata Agus dalam pemaparannya pada acara Antara Business Forum di Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Baca Juga
SILO Akuisisi 14 Properti RS, BRI Danareksa Pasang Target Rp 2.850
Agus menjelaskan, banjir impor menjadi salah satu ancaman utama bagi industri nasional. Kondisi tersebut terjadi ketika dunia menghadapi kelebihan kapasitas produksi pada sejumlah sektor, seperti baja, tekstil, keramik, plastik, dan elektronik.
Menurut Agus, ketika pasar Amerika Serikat dan Eropa memperketat akses melalui penerapan tarif, produk-produk tersebut berpotensi mencari pasar alternatif, termasuk Indonesia. Kondisi tersebut dinilai menjadi ancaman karena sebagian besar output manufaktur Indonesia diserap oleh pasar domestik.
“(Pasar) 78% itu yang menjadi target, yang diincar oleh barang-barang impor yang tadi saya sampaikan yang 78% itu seharusnya menjadi benteng kita. Seharusnya menjadi benteng kita,” ujarnya.
Tekanan Rantai Pasok
Selain banjir impor, tekanan kedua berasal dari kondisi geopolitik global. Konflik di sejumlah kawasan, termasuk ketegangan di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina, dinilai berdampak terhadap harga minyak, rantai pasok, biaya logistik, hingga biaya asuransi.
Tekanan geopolitik tersebut turut menjadi tantangan bagi industri nasional karena dapat meningkatkan biaya yang berkaitan dengan proses produksi dan distribusi.
Baca Juga
BI Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 di Kisaran 4,9-5,7%
Tekanan berikutnya berasal dari kenaikan harga minyak. Agus menyebut harga minyak Brent telah berada di kisaran US$101 per barel secara rata-rata sejak Mei. Kenaikan harga minyak tersebut kemudian ditransmisikan ke biaya produksi industri, antara lain melalui kenaikan biaya bahan bakar, logistik, serta bahan baku petrokimia.
“Kenaikan setiap kenaikan dari harga minyak ini tertransmisi sayangnya langsung pada kenaikan biaya produksi karena di situ ada kenaikan biaya bahan bakar, biaya logistik, dan bahan baku petrokimia seperti plastik, karet sintetis, dan serat poliester,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat industri nasional menghadapi tekanan dari sisi biaya produksi sekaligus tantangan dari sisi pasar, terutama ketika daya beli masyarakat melemah dan barang impor murah semakin berpotensi masuk ke pasar domestik.
