Harga Cabai Tembus Rp70.000, Mendag Sebut Musim Panas Jadi Penyebabnya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengakui terjadinya kenaikan harga cabai rawit. Ia menyebutkan harga komoditas tersebut secara rata-rata nasional saat ini mencapai Rp 70.000 per kilogram (Kg).
Mendag Budi mengatakan, kenaikan harga tersebut salah satunya dipengaruhi kondisi musim panas yang berdampak terhadap pasokan cabai. "Ya, jadi harga rata-rata nasional kan Rp70.000, ya. Harga rata-rata nasional. Kami sudah komunikasi, memang karena musim panas ini, ya," kata Budi di Kantor Kemendag, Jakarta, Selasa (22/9/2026).
Menurut mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemendag ini, kenaikan harga terutama terjadi pada cabai rawit. Sementara itu, harga sejumlah komoditas pangan lainnya masih berada dalam kondisi normal.
"Tapi kalau cabai yang lain, cabai merah besar dan segala macam, itu normal, malah rata-rata masih di bawah HET (Harga Eceran Tertinggi)," terang Mendag Budi.
Baca Juga
Harga Cabai Rawit Melejit 27,54%, Naik di 260 Kabupaten/Kota
Mendag Budi mengatakan, berdasarkan pemantauan yang dilakukan pemerintah di sejumlah pasar, harga sejumlah komoditas pangan masih relatif terkendali. Ia mencontohkan harga bawang merah, bawang putih, telur, dan ayam yang masih berada di bawah harga eceran tertinggi (HET).
"Kemarin kami juga ke pasar di Prambanan, ya. Komoditas harganya rata-rata bagus semua. Ya kemarin bawang merah, bawang putih, telur, ayam masih di bawah HET," beber Budi.
Meski demikian, ia memastikan bahwa Kemendag tetap memantau perkembangan harga cabai rawit untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan.
Mendag Budi menegaskan, Kemendag terus melakukan komunikasi terkait perkembangan harga cabai rawit. Pemerintah, kata dia, akan mencermati kondisi pasokan di tengah pengaruh musim panas
"Ya, jadi kita harapkan ini masih di bawah, ada fluktuasi, tapi mendekati. Artinya kalau mendekati itu ya berarti ada keseimbangan antara suplai dan demand. Ya kita harapkan kan seperti itu, sehingga peternak bisa jalan, tetapi konsumen juga tidak dirugikan," jelasnya.
