Harga Minyak Dunia Naik, Mendag Wanti-wanti Defisit Migas Gerus Neraca Perdagangan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyampaikan bahwa pemerintah mewaspadai kenaikan harga minyak dunia terhadap kinerja neraca perdagangan Indonesia. Untuk itu pemerintah mendorong peningkatan ekspor nonmigas, agar defisit sektor migas tidak menggerus surplus neraca perdagangan nasional.
Mendag Budi mengatakan, harga minyak dunia kembali meningkat setelah sebelumnya sempat mengalami kenaikan pada April-Mei. Berdasarkan data terbaru pada hari ini, Selasa (22/9), harga minyak dunia kini telah mencapai US$ 100 per barel.
“Memang kemarin sempat harga minyak naik lagi seperti pada bulan April-Mei, ya harapan kita, yang kita lakukan adalah bagaimana ekspor kita terus meningkat, karena jangan sampai defisit minyak ini nanti memengaruhi surplusnya non-migas,” kata Budi saat ditemui di Kantor Kemendag, Jakarta Pusat, Selasa (22/9/2026).
Pemerintah, kata Budi, perlu menjaga defisit perdagangan migas tidak terlalu besar sehingga surplus perdagangan nonmigas tetap mampu menopang neraca perdagangan secara keseluruhan. “Jadi yang migas jangan terlalu besar defisitnya, sehingga surplus ini bisa kita tingkatkan,” tambahnya.
Baca Juga
Impor Migas Membengkak, Surplus Perdagangan Turun, Indonesia Kian Tergantung dari China
Mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemendag ini menegaskan, peningkatan surplus neraca perdagangan perlu terus didorong. Pasalnya, apabila pertumbuhan surplus tidak signifikan, kenaikan defisit migas dapat kembali menekan neraca perdagangan Indonesia.
“Tapi kita tingkatkan terus ya, karena kalau misalnya peningkatan surplusnya gak signifikan, ya takutnya nanti defisit lagi,” ungkap Mendag Budi.
Salah satu upaya pemerintah untuk memperbesar kinerja ekspor dilakukan melalui penguatan akses pasar. Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengembangkan platform digital InaExport yang mempertemukan eksportir dengan buyer internasional.
Selain itu, pemerintah akan menggelar pameran Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 pada 14-18 Oktober 2026 sebagai salah satu sarana mempertemukan produk Indonesia dengan calon pembeli dari berbagai negara. Ia menyebut antusiasme buyer terhadap kegiatan tersebut cukup tinggi. Hingga saat ini, lebih dari 4.000 buyer telah mengonfirmasi kehadiran.
“Jadi kita tanggal 14-18 salah satu upaya (TEI), ya terutama itu salah satu upaya bagaimana kita bisa meningkatkan ekspor kita lebih besar lagi, ya dengan harapan dengan kondisi seperti ini pasar semakin besar,” terang Mendag Budi.
