Implementasi AI Bisa Dongkrak Pendapatan Bank ingga 4,7%, tapi OJK Wanti-wanti Risiko
JAKARTA, investortrust.id - Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di industri perbankan terus berkembang seiring semakin luasnya kebutuhan digitalisasi dan otomasi. Teknologi ini bahkan berpotensi memberikan tambahan pendapatan yang signifikan bagi industri perbankan.
Baca Juga
OJK Ungkap 20% Lebih Masyarakat Paham Dana Pensiun, tapi Baru 5% yang Manfaatkan
Deputi Komisioner Pengaturan, Perizinan, dan Pengendalian Kualitas OJK Deden Firman mengungkapkan, pemanfaatan generative AI diperkirakan mampu meningkatkan pendapatan industri perbankan hingga 4,7%.
“McKinsey memperkirakan bahwa pemanfaatan generative AI dapat meningkatkan pendapatan industri perbankan sebesar 2,8% hingga 4,7%,” ujarnya, dalam sebuah webinar, Jumat (25/9/2026).
Menurut Deden, perkembangan AI saat ini telah bergerak jauh dari sekadar otomasi tugas-tugas rutin. Teknologi tersebut berkembang mulai dari robotic process automation (RPA), traditional AI berbasis machine learning, generative AI yang mampu menghasilkan berbagai jenis output baru, hingga agentic AI yang dapat mengambil keputusan dan bertindak secara lebih otonom.
Secara global, nilai pasar AI diperkirakan mencapai US$ 184 miliar pada 2024 dan tumbuh rata-rata 28,46% per tahun hingga 2030. Perkembangan itu menunjukkan semakin besarnya ruang pemanfaatan AI di berbagai sektor, termasuk jasa keuangan.
Di industri perbankan, Deden menilai ruang pemanfaatan AI ke depan akan semakin luas. Teknologi tersebut dapat digunakan untuk mendukung pemasaran dan penjualan, proses onboarding nasabah, pengembangan produk, layanan konsultasi keuangan, hingga berbagai fungsi internal perbankan.
“Ke depan, seiring dengan berkembangnya teknologi predictive AI dan generative AI, ruang pemanfaatannya diperkirakan akan semakin luas,” katanya.
Meski begitu, Deden menekankan bahwa perkembangan AI tidak serta-merta menghilangkan kebutuhan terhadap peran manusia. Pertimbangan manusia tetap diperlukan untuk memahami konteks yang lebih luas dan memastikan setiap keputusan yang dihasilkan teknologi tetap akuntabel serta dapat dipertanggungjawabkan.
AI Bawa Risiko Baru
Pasalnya, di balik potensi efisiensi dan peningkatan pendapatan tersebut, pemanfaatan AI juga membawa sejumlah risiko baru bagi industri perbankan.
Dari sisi model misalnya, penggunaan AI menghadapi risiko deepfake yang dapat meningkatkan potensi fraud dan social engineering.
Selain itu, terdapat persoalan black box yang membuat proses pengambilan keputusan oleh model AI sulit dijelaskan, serta AI bias yang berpotensi menghasilkan keputusan yang tak adil.
“Risiko tersebut tidak hanya muncul pada tingkat model AI itu sendiri, tetapi juga berpotensi mempengaruhi ketahanan operasional bank dan bahkan stabilitas sistem keuangan secara lebih luas,” ucap Deden.
Di tingkat industri, lanjut dia, semakin masifnya penggunaan AI juga dapat meningkatkan ketergantungan bank terhadap pihak ketiga penyedia teknologi. Kondisi itu berpotensi menciptakan konsentrasi pasar pada sejumlah pemain teknologi dominan.
“Serta mendorong perilaku yang lebih seragam antar institusi keuangan,” ujar Deden.
Baca Juga
OJK Bakal Kasih Lampu Hijau Investasi Dana Pensiun ke Luar Negeri, Asal…
Sehingga, OJK menilai, pengembangan AI di sektor perbankan perlu berjalan beriringan dengan penguatan teta kelola, pengawasan, dan manajemen risiko yang memadai.
“Agar manfaat inovasi dapat diperoleh tanpa mengorbankan stabilitas dan kepercayaan terhadap sistem keuangan,” kata Deden.
