El Nino dan Kebakaran Pangkas 25% Produksi Gula , Petani Minta Subsidi hingga Rp 1 Triliun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) mengungkapkan pihaknya mengalami penurunan rata-rata produksi sekitar 25% akibat kekeringan yang dipengaruhi fenomena El Nino, pada musim giling 2026.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) APTRI Nur Khabsyin menyampaikan, kondisi tersebut semakin menekan pendapatan petani di tengah kenaikan biaya produksi dan belum adanya kenaikan Harga Pokok Penjualan (HPP) gula selama tiga tahun terakhir.
Nur Khabsyin mengatakan, penurunan produksi menjadi salah satu persoalan utama yang dihadapi petani pada musim giling tahun ini.
Selain terdampak kekeringan, sebagian tanaman tebu petani juga mengalami kebakaran di sejumlah wilayah.
"Turunnya produksi tebu akibat kekeringan El Nino, ini rata-rata penurunannya adalah 25%. Di samping itu juga ada sebagian tebu kami yang terbakar di beberapa lokasi sehingga ini juga menurunkan produksi tebu dan juga pendapatan petani," ujar Nur Khabsyin pada rapat bersama Komisi VI DPR, Jakarta, Senin (21/9/2026).
Baca Juga
HPP Gula Mandek 3 Tahun, Petani Tebu Desak Pemerintah Naikan Harga Jadi Rp 15.500/Kg
Menurutnya, penurunan produksi tersebut turut memperbesar kerugian yang dialami petani. Pasalnya, biaya produksi tetap meningkat setiap tahun, sementara HPP gula petani yang menjadi acuan pembelian disebut tidak mengalami kenaikan selama tiga tahun.
"Yang pertama adalah kerugian yang diakibatkan rendahnya HPP gula petani karena sudah tiga tahun tidak naik, sementara biaya produksi itu pasti setiap tahun naik," katanya.
Selain itu, produksi yang turun, Nur Khabsyin juga mengungkapkan, petani menghadapi persoalan rendemen. Asosiasi menyebut rendemen yang diterima petani di mayoritas pabrik gula BUMN masih berada di bawah 8%, dengan rata-rata sekitar 7%.
Kondisi tersebut dinilai semakin merugikan petani karena musim kemarau seharusnya dapat mendukung pembentukan rendemen yang lebih tinggi. Asosiasi menyebut sejumlah pabrik gula swasta bahkan memberikan rendemen di atas 8%.
"Yang kedua, kerugian diakibatkan rendemen tebu yang diberikan kepada kami ini masih rendah. Sementara posisi musim kemarau ini itu membentuk rendemen yang tinggi sehingga ini juga menyebabkan kerugian bagi petani tebu," ungkapnya.
Lebih lanjut, APTRI juga mengusulkan subsidi harga sebesar Rp1.000 per kilogram gula petani sebagai salah satu upaya membantu mengurangi kerugian yang dialami petani akibat penurunan produksi.
Menurut APTRI, dukungan terhadap petani tebu diperlukan karena komoditas gula tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan pangan, tetapi juga memiliki potensi dalam mendukung ketahanan energi melalui produk samping berupa tetes yang dapat digunakan sebagai bahan baku bioetanol.
"Kalau kami hitung, jumlahnya tidak banyak. Kalau seribu dikali jumlah gula petani, itu hanya sekitar Rp 1 triliun," terang Nur Khabsyin.
