Stok Beras 25 Juta Ton, Mentan Pastikan Pasokan Aman Hadapi Nataru dan El Nino
JAKARTA, investortrust.id – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memastikan pasokan beras nasional aman menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru). Kepastian tersebut didukung oleh cadangan beras pemerintah (CBP) di Perum Bulog yang mencapai sekitar 4,5 juta ton serta produksi dalam negeri yang masih berlanjut.
Pemerintah optimistis ketersediaan beras tetap terjaga hingga Juli–Agustus 2027, meskipun Indonesia menghadapi ancaman El Nino. Kondisi ini sekaligus memperkuat keberlanjutan swasembada beras nasional tanpa impor.
Baca Juga
Jelang Nataru, Mendagri Tito Tekankan Percepatan Bansos dan Operasi Pasar Tekan Inflasi Pangan
Amran mengatakan, Indonesia berhasil mempertahankan swasembada beras selama dua tahun pemerintahan terakhir. Pada periode tersebut, pemerintah tidak melakukan impor beras, baik pada tahun lalu maupun tahun ini. “Pangan kita, khususnya beras yang menjadi pangan strategis, selama dua tahun pemerintahan saat ini swasembada berkelanjutan. Tahun lalu tidak impor, tahun ini juga tidak impor. Insyaallah stok kita aman, aman sampai bulan Juli. Stok kita tertinggi sepanjang sejarah saat ini,” kata Amran dalam Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) Pangan di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Senin (26/10/2026).
Amran menjelaskan, cadangan beras di Bulog saat ini mencapai sekitar 4,5 juta ton. Selain cadangan pemerintah, pasokan beras nasional ditopang oleh produksi yang masih berada di lahan atau standing crop serta stok yang beredar di masyarakat, termasuk di sektor hotel, restoran, dan katering (horeka).
Berdasarkan perhitungan pemerintah, standing crop mencapai sekitar 10 juta ton. Sementara itu, stok beras di sektor horeka diperkirakan mencapai 10 juta ton. Dengan demikian, total ketersediaan beras nasional diperkirakan mencapai sekitar 25 juta ton. Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan kebutuhan beras nasional yang mencapai sekitar 2,5 juta ton per bulan.
Baca Juga
Pemerintah Siapkan Stimulus Nataru Rp 883,4 Miliar, dari Diskon Tiket Kapal hingga Pesawat
“Standing crop kita itu 10 juta ton. Kemudian horeka itu 10 juta ton. Di Bulog 4,5 juta ton, total sekitar 25 juta ton. Kebutuhan per bulan 2,5 juta ton. Kalau 25 juta ton dibagi kebutuhan 2,5 juta per bulan, berarti itu bisa untuk 10 bulan ke depan. Artinya sampai bulan Juli-Agustus aman,” terangnya.
Ketersediaan tersebut menjadi modal pemerintah untuk menjaga stabilitas pasokan beras, termasuk saat kebutuhan masyarakat meningkat menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru.
Antisipasi El Nino
Selain mengandalkan cadangan beras, pemerintah menyiapkan langkah untuk menjaga kesinambungan produksi dalam negeri di tengah ancaman El Nino. Sejumlah langkah antisipasi telah disiapkan, antara lain pompanisasi, optimalisasi lahan, perbaikan irigasi, serta penggunaan benih yang tahan terhadap kekeringan.
Baca Juga
Prabowo Sebut Mata Uang dan Beras Jadi Senjata di Tengah Ketegangan Geopolitik
Amran menegaskan, langkah-langkah tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah mengantisipasi dampak El Nino terhadap produksi pertanian. “Jadi, El Nino tidak perlu mengkhawatirkan karena kita sudah mengantisipasi sebelumnya. Dengan pompanisasi, oplah, irigasi kita perbaiki, kemudian benih tahan kekeringan,” ungkapnya.
Melalui langkah tersebut, pemerintah berupaya memastikan ketahanan pasokan beras tidak hanya bergantung pada cadangan yang tersedia, tetapi juga didukung oleh produksi domestik yang berkelanjutan.
