El Niño Godzilla, Petaka Petani Padi, Berkah Petani Garam
Rembang, Investortrust.id – Fenomena Super El Niño atau pemanasan suhu muka laut yang luar biasa kuat di Samudra Pasifik dan melanda sebagian besar wilayah Indonesia membuat lahan-lahan sawah mengering. Aktivitas petani padi beralih ke penanaman produk hortikultura yang lebih tahan panas dan membutuhkan sedikit air seperti semangka, melon dan kacang hijau.
Namun, meski bagi petani padi musim kemarau adalah 'petaka', lain halnya dengan petani garam. Mereka dengan sukacita menyambut musim kemarau karena dengan panas yang terik, penguapan air laut akan semakin mudah dan angin timur berhembus kencang dan mempercepat proses pengkristalan garam.
Investortrust berupaya melihat langsung bagaimana sebenarnya proses pembuatan garam dan para petani garam diuntungkan dengan adanya fenomena El Niño Godzilla. Di tepi jalan Pantura yang menghubungkan Semarang dan Surabaya, tepatnya di pesisir pantai Rembang, terhampar luasnya tambak-tambak yang merupakan tambak penghasil garam.
Mengutip data dari situs resmi Pemerintah Kabupaten Rembang, daerah ini merupakan penghasil garam krosok (garam mentah/kasar) yang meliputi 6 kecamatan, melibatkan 4.739 petani penggarap dan dimiliki oleh 781 pemilik tambak. Luas keseluruhan mencapai 1.465 hektar dan menghasilkan 120.000 hingga 235.000 ton garam per tahun.
Masih jauh dari kebutuhan garam nasional yang mencapai 4,8 sampai 4,9 juta ton per tahun. Sementara produksi garam nasional hanya dapat mencapai kisaran 1 juta hingga 2 juta ton per tahun, ini pun masih tergantung pada faktor cuaca. Seperti dituturkan oleh Sugeng, salah satu petani garam di Desa Dresi Kulon, Kecamatan Kaliori, Rembang yang ditemui Investortrust, Sabtu (28/9/2026).
"Kalau musim timur (angin timur) seperti sekarang, produksi bisa lebih cepat dan meningkat, Pak. Timur itu membawa hawa panas dan anginnya kencang, jadi membantu memutar kincir angin dan penguapan." Ujarnya sambil mendorong tumpukan garam di lahan yang ia kelola.
"Kalau tahun lalu, musim kemaraunya masih ada hujan, proses pengeringan terganggu. Musim kemarau sekarang hampir tidak ada hujan, Mas, jadi air tualebih cepat kering," tukas Mbah Yas, salah satu rekan Sugeng. Air tua dan air muda adalah istilah untuk menyebut jenis air yang siap dipanen menjadi garam dan bahan mentah.
Air muda adalah air yang baru disedot dari laut, ditampung di kolam besar, kemudian dialirkan ke petak-petak milik para petani garam. Air itu dialirkan sebanyak tiga tahap dalam tiga petak. Setiap petak didiamkan selama dua hingga tiga hari, diukur kadar keasaman dan basa air tersebut, kemudian dipindahkan hingga siap panen. Sementara air tua adalah air yang siap menjadi garam.
Sugeng dan rekan-rekannya menjual garam mereka seharga Rp800-1000/kg di lokasi. Itupun masih dibagi dua dengan pemilik lahan. "Kalau harga di gudang atau di pabrik garam ya sudah beda lagi, Pak." Tambah Sugeng.
Sebagian petani menggunakan terpal dan genset listrik atau bbm, sebagian lagi masih menganut pola tradisional seperti memakai kincir yang bergantung pada angin dan tambaknya beralas tanah. Penggunaan terpal PVC berwarna hitam mempercepat peningkatan suhu dan penguapan sehingga garam lebih cepat mengkristal.
Mbah Yas adalah salah satu petani garam yang masih menganut pola tradisional. Ia meratakan lahan garamnya menggunakan alat yang disebut slender (silinder), sebuah tabung kayu yang diberi gagang bambu panjang. Kemudian, tanpa PVC, lahan yang ia kelola dialiri air laut setelah sebelumnya ia taburi garam yang ia sebut sebagai bibit. Mbah Yas juga masih memindahkan air secara manual menggunakan gayung besar dengan tuas panjang.
Awal September di Jakarta, Kepala BAKOM RI, Mohammad Qodari mengungkap ironi Indonesia sebagai salah satu negara dengan garis pantai terpanjang di dunia. "Jadi ini realita pahit kita, ternyata selama ini kita impor garam walaupun kita negara kepulauan dengan panjang pantai mungkin terpanjang di dunia," tuturnya pada Konferensi Pers di kantor BAKOM RI, di Jakarta, Rabu (2/9/2026). Pemerintah saat ini sedang mematangkan rencana pembangunan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (KSIGN). Salah satunya akan berada di kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur.
Pemerintah berencana berswasembada garam pada tahun 2029. "Volume impor garam ditargetkan turun dari baseline sekitar 2,6 juta ton menjadi 2 juta ton pada 2026. 1 juta ton pada 2027, hingga mencapai nol pada tahun 2029," tukas Qodari.
