ESDM Ungkap Jejak 'Coal-to-Liquid', Teknologi Jadi Kunci Ubah Batu Bara Jadi Minyak
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pemerintah mulai mengevaluasi teknologi coal-to-liquid (CTL) untuk menindaklanjuti arahan Presiden Prabowo Subianto terkait pengembangan bensin atau minyak dari batu bara. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut teknologi tersebut bukan hal baru di dunia.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan, teknologi pencairan batu bara menjadi bahan bakar cair telah diterapkan sejumlah negara sejak lama. Salah satu contohnya terjadi di Jerman pada masa lalu.
Baca Juga
Capai 423,71 Juta Ton hingga Juli 2026, Produksi Batu Bara RI Melambat Jadi 60,5 Juta Ton per Bulan
“Kalau di dunia ini dimulai coal-to-liquid itu sudah lama. Bahkan di Jerman itu pada saat Jerman Timur, mereka mengubah karena di Jerman Timur enggak ada sumber minyak, mereka merubah batu bara menjadi minyak untuk tank,” kata Tri saat ditemui dalam acara Donor Darah Ditjen Minerba di Jakarta, Senin (21/9/2026).
Menurut Tri, pengalaman serupa juga dapat dilihat di Afrika Selatan melalui Sasol. Perusahaan tersebut mengembangkan teknologi pencairan batu bara sebagai respons terhadap keterbatasan akses minyak akibat kondisi politik dan sanksi internasional pada masa apartheid.
“Terus kemudian kita lihat Sasol misalnya di Afrika Selatan. Dulu dia kena politik apartheid, terus di-ban oleh negara-negara lain, maka dia mencairkan batu bara,” ungkap Tri Winarno.
Tri menyebut teknologi yang dikembangkan Sasol bahkan masih digunakan hingga saat ini dengan kapasitas produksi sekitar 300.000 barel per hari. Hal itu menunjukkan bahwa pengolahan batu bara menjadi bahan bakar cair secara teknologi telah memiliki rekam jejak di industri energi.
“Sasol itu sampai sekarang sekitar kira-kira 300.000 barel per hari. Jadi memang sudah ada kalau itu,” tutur dia.
Terkait rencana Indonesia, Tri mengatakan pemerintah belum menentukan negara yang akan menjadi mitra kerja sama teknologi. Sejumlah opsi saat ini masih dalam tahap evaluasi untuk melihat teknologi yang paling sesuai dengan kebutuhan Indonesia. “Nanti beberapa sedang dievaluasi. Tentang negaranya kan enggak terlalu ini, yang penting teknologinya lah,” tegasnya.
Baca Juga
Sebelumnya, Presiden Prabowo menyampaikan bahwa Indonesia memiliki potensi untuk menghasilkan bensin dari batu bara sebagai bagian dari upaya mewujudkan swasembada dan kemandirian energi. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan pengembangan tersebut sejalan dengan arahan untuk mengoptimalkan seluruh potensi energi domestik, termasuk batu bara berkalori rendah.
Pemerintah kini perlu menilai aspek teknologi dan keekonomian sebelum menentukan skema pengembangan CTL di dalam negeri. Dengan potensi batu bara berkalori rendah yang besar, teknologi tersebut dipandang sebagai salah satu opsi untuk mendiversifikasi sumber energi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor.
