Jakarta-Surabaya Jadi Andalan Logistik KAI, Angkut Barang Non-Batu Bara 4,8 Juta Ton
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mencatat volume angkutan barang non-batu bara di Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta dan Daop 8 Surabaya mencapai 4,82 juta ton sepanjang Januari-September 2026.
Berdasarkan laporan kinerja angkutan barang KAI periode Januari-September 2026, Daop 1 Jakarta mencatat volume angkutan non-batu bara sebanyak 2.567.115 ton. Sementara itu, Daop 8 Surabaya mencatat volume sebanyak 2.260.233 ton.
Baca Juga
KAI Pastikan Perjalanan Kereta Tetap Aman di Tengah Erupsi Anak Krakatau
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba menyatakan, distribusi angkutan barang di setiap wilayah memiliki karakteristik berbeda sesuai kebutuhan pelanggan dan kegiatan ekonomi.
“Setiap wilayah memiliki kegiatan ekonomi dan kebutuhan distribusi yang berbeda. Ada kawasan yang membutuhkan pengiriman bahan industri, ada pula jalur yang melayani pergerakan hasil perkebunan dan barang konsumsi. Jaringan kereta api membantu menghubungkan kebutuhan tersebut melalui layanan angkutan yang disesuaikan dengan karakter masing-masing koridor,” kata Anne dalam keterangan tertulis, Selasa (20/10/2026).
Adapun secara keseluruhan, KAI mencatat volume angkutan barang non-batu bara sebanyak 9.148.571 ton sepanjang Januari-September 2026. Jumlah tersebut meningkat 2,6% dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebanyak 8.912.566 ton.
Wilayah Jawa menyumbang volume angkutan non-batu bara sebanyak 6.684.683 ton, sedangkan Sumatra mencatat 2.463.889 ton. Dengan demikian, sekitar 73% volume angkutan non-batu bara KAI berasal dari Jawa dan 27% dari Sumatra.
Selain Daop 1 Jakarta dan Daop 8 Surabaya, Daop 5 Purwokerto mencatat volume angkutan barang non-batu bara sebanyak 1.006.418 ton selama Januari-September 2026.
Sementara itu, di Sumatra, angkutan barang non-batu bara dikelola melalui empat divisi regional (Divre). Divre II Sumatera Barat mencatat volume 893.635 ton, disusul Divre III Palembang sebanyak 646.893 ton, Divre I Sumatera Utara sebanyak 626.185 ton, dan Divre IV Tanjungkarang sebanyak 297.175 ton.
Anne kemudian menjelaskan, pengelolaan angkutan barang perlu memperhatikan kebutuhan pelanggan, kesiapan jalur, kapasitas operasional, serta fasilitas pemuatan dan pembongkaran.
Baca Juga
“Pengembangan angkutan barang perlu dimulai dari pemahaman terhadap kebutuhan pelanggan dan potensi setiap wilayah. Ketika kapasitas kereta, kesiapan prasarana, dan pola pengiriman dapat direncanakan dengan baik, transportasi berbasis rel memiliki ruang untuk melayani lebih banyak kebutuhan distribusi,” ujar dia.
Menurut Anne, PT KAI berkomitmen untuk terus mengevaluasi peluang pengembangan angkutan barang berdasarkan potensi wilayah, kebutuhan industri, serta kesiapan jaringan untuk mendukung distribusi barang antardaerah.
