KAI Kaji LRT hingga Trem Bali Buntut Macet Horor 15 Km di Canggu-Bandara
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mengkaji pengembangan transportasi berbasis rel dari Canggu menuju Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali (DPS). Kajian tersebut dilakukan menyusul tingkat kemacetan Canggu-Bandara Ngurah Rai yang mencapai hampir 15 kilometer (km).
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba menyatakan, penjajakan pengembangan transportasi berbasis rel di Bali mencakup sejumlah pilihan moda, mulai dari Light Rail Transit (LRT) hingga trem listrik.
"Khusus untuk Bali, MoU isinya adalah mempersiapkan, itu Canggu ke bandara (I Gusti Ngurah Rai). Karena tingkat kemacetannya sudah sangat luar biasa, itu sekitar hampir 15 kilometer," ungkap Anne saat konferensi pers di Stasiun BNI City, Jakarta, Jumat (4/9/2026).
Baca Juga
Menurut dia, pilihan moda masih akan dikaji lebih lanjut dengan mempertimbangkan kebutuhan dan karakteristik wilayah Bali.
"Dan kemarin itu penjajakannya adalah berbasis rel, sebutnya kemarin ada LRT, ada trem dan yang lain. Tetapi ini akan dikaji sesuai dengan kebutuhan di sana karena sosiologinya kan beda," tambah Anne.
Anne juga menjelaskan, pembangunan jalur rel di Bali tidak dapat serta-merta menggunakan konstruksi layang atau elevated railway. Hal tersebut berkaitan dengan keberadaan tempat ibadah agama hindu (Pura) di Bali.
"Tidak bisa di atas (elevatedrailway, red) karena mereka punya Pura. Jadi ini yang lagi kita kaji dan juga pembebasan lahan yang harus dikerjasamakan dengan pemerintah daerah setempat," terangnya.
Dari sisi investasi, KAI juga masih akan melihat pihak yang akan menjadi investor dalam pengembangan transportasi berbasis rel tersebut.
"Dan mengenai investasinya pun pasti kita harus melihat siapa yang akan menjadi investor, tetapi KAI siap untuk bekerja sama," tutur Anne.
Dia menambahkan, kebutuhan teknis prasarana nantinya harus dikaji bersama regulator, termasuk Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (DJKA Kemenhub).
Anne turut menyampaikan, KAI telah mulai melakukan sejumlah persiapan setelah penandatanganan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) bersama pemerintah daerah. Di antaranya, yakni komparasi data dan pengecekan jalur Canggu-Bandara yang feasible untuk pembangunan rel.
"Tetapi, kami mulai menandatangani MoU itu artinya kami sudah mulai sharedata sudah mulai menerjunkan tim untuk melakukan pengecekan jalur dari Canggu ke Bandara di Bali," katanya.
Sebelumnya, KAI bersama Pemprov Bali dan Pemkab Badung menyepakati rencana pengembangan perkeretaapian di Provinsi Bali. Kesepakatan bersama tersebut ditandatangani Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin, Gubernur Bali Wayan Koster, dan Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa di Gedung Kertasabha, Denpasar, Selasa (1/9/2026).
Bobby mengatakan, kesepakatan tersebut menjadi tahap awal untuk menyiapkan kajian dan koordinasi terkait rencana pengembangan transportasi berbasis rel di Bali.
Hal tersebut bermula dari pandangan pemerintah daerah bahwa perkembangan ekonomi, pariwisata, dan mobilitas masyarakat setempat menjadi bagian penting dalam melihat kebutuhan sistem transportasi Bali ke depan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, ekonomi Bali pada kuartal II/2026 tumbuh 5,78% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Produk domestik regional bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku pada periode tersebut mencapai Rp 89,27 triliun.
Lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum menjadi kontributor terbesar dengan porsi 21,91%.
"Perkembangan ekonomi dan aktivitas pariwisata Bali perlu diikuti dengan perencanaan transportasi yang mampu menjawab kebutuhan mobilitas ke depan. Melalui kesepakatan ini, kami bersama pemerintah daerah mulai mempelajari bagaimana perkeretaapian dapat menjadi bagian dari pengembangan sistem transportasi Bali," kata Bobby dalam keterangannya, Selasa (1/9/2026).
BPS juga mencatat jumlah wisatawan mancanegara yang datang langsung ke Bali pada Juni 2026 mencapai 605.013 kunjungan, meningkat 4,63% dibandingkan Mei 2026 sebanyak 578.251 kunjungan.
Pada periode yang sama, jumlah penumpang penerbangan internasional yang berangkat dari Bali mencapai 650.838 orang, naik 4,93% dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara penumpang penerbangan domestik yang berangkat dari Bali tercatat 329.891 orang atau meningkat 4,68%.
Bobby menambahkan, karakter Bali sebagai salah satu pusat pariwisata Indonesia membuat perencanaan transportasi perlu memperhatikan keterhubungan antara pusat aktivitas masyarakat, kawasan pariwisata, dan berbagai moda transportasi yang telah tersedia.
"Bali memiliki karakter mobilitas dan pengembangan wilayah yang khas. Karena itu, kebutuhan, potensi, integrasi antarmoda, hingga kelayakan pengembangan perkeretaapian perlu dipelajari secara menyeluruh agar rencana yang disiapkan memiliki dasar yang kuat dan sesuai dengan kebutuhan daerah," jelasnya.
Kesepakatan Bersama
Adapun tahapan pengembangan perkeretaapian Bali yang disepakati mencakup inventarisasi data dan informasi, penyusunan kajian kelayakan dan/atau detail engineering design (DED), serta integrasi antarmoda.
Baca Juga
KAI Gabungkan 3 Nama Kereta Jadi KA Muria, Ini Jadwal 12 Perjalanannya
Selain itu, kesepakatan mencakup peningkatan kompetensi sumber daya manusia dan koordinasi dengan kementerian/lembaga, badan usaha, serta pemangku kepentingan terkait.
Kesepakatan bersama tersebut berlaku selama lima tahun sejak ditandatangani dan dapat ditindaklanjuti melalui perjanjian kerja sama (PKS) sesuai kewenangan masing-masing pihak.
"KAI siap membawa pengalaman dan kompetensi perkeretaapian dalam proses kajian bersama. Setiap tahap akan disiapkan secara cermat, prudent, dan sesuai regulasi agar rencana yang dihasilkan feasible serta memberikan manfaat jangka panjang bagi mobilitas masyarakat dan pengembangan wilayah Bali," kata Bobby.
