Pertamina Dorong AI MetaSeaco Perluas Teknologi untuk Nelayan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Teknologi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan data satelit dari startup MetaSeaco membantu nelayan tradisional di Cilacap, Jawa Tengah, menentukan waktu melaut, jenis ikan yang diburu, hingga titik koordinat potensial. Penerapan teknologi tersebut telah memangkas biaya operasional sekitar 23% dan meningkatkan pendapatan rata-rata nelayan hingga 68%.
Data MetaSeaco menunjukkan sekitar 41% dari 6.806 perjalanan melaut yang tercatat di Cilacap Selatan sebelumnya mengalami kerugian. Kondisi itu membuat nelayan menghadapi risiko tinggi karena biaya bahan bakar, waktu, dan tenaga yang dikeluarkan belum tentu sebanding dengan hasil tangkapan.
MetaSeaco kemudian mengembangkan Iwak, teknologi yang memanfaatkan AI dan data satelit untuk membantu nelayan mengambil keputusan sebelum berangkat melaut. Teknologi tersebut memberikan informasi mengenai waktu yang dinilai paling tepat untuk melaut sekaligus rekomendasi lokasi penangkapan berdasarkan target ikan.
Baca Juga
“Dari rumah, nelayan sudah bisa mengetahui apakah hari itu sebaiknya melaut atau tidak. Jika melaut, teknologi ini juga memberikan rekomendasi titik koordinat dan waktu terbaik untuk menangkap ikan,” ujar CEO MetaSeaco Catur Prasetyo Nugroho dikutip Senin (31/8/2026).
Saat ini, Iwak telah digunakan pada 15 perahu nelayan di Cilacap. Penerapan teknologi tersebut membuat biaya operasional turun sekitar 23%, sedangkan pendapatan rata-rata nelayan meningkat 68%.
Perubahan juga terlihat pada tingkat perjalanan yang merugi. Dari sebelumnya sekitar 41%, proporsinya turun menjadi sekitar 30% setelah nelayan menggunakan rekomendasi yang diberikan teknologi Iwak.
Teknologi tersebut juga dikembangkan untuk membantu nelayan menentukan target tangkapan. Berdasarkan data MetaSeaco, akurasi prediksi untuk ikan tenggiri batang mencapai 91%, bawal putih 85%, dan layur 70%.
Dalam salah satu perjalanan melaut, nelayan yang mengikuti koordinat dengan skor prediksi tinggi bahkan mampu memperoleh pendapatan sekitar Rp 3 juta.
Bagi nelayan tradisional, informasi tersebut menjadi penting karena keputusan untuk melaut sebelumnya banyak bergantung pada pengalaman, kondisi cuaca, dan perkiraan hasil tangkapan. Dengan pemanfaatan data, nelayan memperoleh tambahan informasi sebelum mengeluarkan biaya untuk berangkat.
MetaSeaco merupakan salah satu startup yang lahir dari program Pertamuda, program pengembangan startup yang dijalankan PT Pertamina untuk mendorong inovasi dan kewirausahaan anak muda. Pengembangan Iwak menjadi salah satu contoh bagaimana inovasi yang sebelumnya berada dalam tahap pengembangan dapat diarahkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat di wilayah operasional Pertamina.
Dari 15 perahu di Cilacap, teknologi tersebut kini berpeluang diperluas ke desa lain melalui kolaborasi Desa Energi Berdikari (DEB) Pertamina dengan program Pertamuda.
Kolaborasi itu menjadi bagian dari Festival Desa Energi Berdikari Pertamina 2026 yang digelar di Grha Pertamina, Jakarta, Jumat (28/8/2026). Pertamina mendorong DEB tidak hanya menjadi lokasi pemanfaatan energi baru terbarukan, tetapi juga menjadi ruang bagi teknologi dan inovasi untuk diterapkan secara langsung di tengah masyarakat.
Vice President CSR & SMEPP Management Pertamina Rudi Ariffianto mengatakan perusahaan membuka peluang agar lebih banyak teknologi tepat guna dapat masuk ke desa binaan. “Semakin banyak teknologi tepat guna yang bisa diterapkan, tentu akan semakin bagus. Harapannya, dampak dari 269 Desa Energi Berdikari yang kami miliki bisa semakin besar,” ujar Rudi.
Inovasi Pertamuda Masuk Desa
Selain MetaSeaco, Pertamina juga membuka ruang implementasi bagi Terangin, startup energi terbarukan yang masuk Top 3 Pertamuda 2025 kategori Energy Future.
Terangin akan membawa teknologinya ke DEB Juntinyuat, Indramayu, Jawa Barat. Salah satu teknologi yang dikembangkan adalah perangkat penghalau burung berbasis laser otomatis yang dirancang untuk membantu petani mengurangi gangguan hama pada lahan pertanian.
CEO Terangin Muhammad Hanif mengatakan penerapan teknologi tersebut diharapkan dapat membantu petani mengurangi gangguan burung sekaligus menjaga produktivitas hasil pertanian.
“Terima kasih kepada Pertamina dan Pertamuda yang telah memberikan berbagai dukungan, mulai dari pendanaan, mentoring, publikasi, dan banyak hal lainnya. Dukungan tersebut sangat membantu kami untuk terus berkembang dan menjadi lebih mandiri,” ujar Hanif.
Teknologi penghalau hama itu menjadi bagian dari pendekatan yang lebih luas dalam pengembangan DEB. Pertamina tidak hanya mengarahkan desa pada pemanfaatan energi, tetapi juga mendorong teknologi yang dapat menjawab persoalan produktivitas masyarakat secara langsung.
Baca Juga
2 Sumur Baru Pertamina Sanga-Sanga Produksi Gas di Atas Target, Capai 5,3 MMSCFD
Model tersebut juga diterapkan di DEB Nagari Katapiang. Di wilayah tersebut, Pertamina menggandeng PT Global Vision Tech untuk mengembangkan rantai nilai komoditas kelapa.
Rudi mengatakan inovasi yang dihasilkan anak bangsa membutuhkan ruang implementasi agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat. Karena itu, DEB menjadi salah satu ruang yang dapat mempertemukan teknologi dengan kebutuhan di lapangan.
“Melalui Festival Desa Energi Berdikari 2026, Pertamina mendorong semakin banyak inovasi karya anak bangsa untuk menemukan ruang implementasinya di tengah masyarakat,” ujar Rudi.
