Hippindo Minta Pemerintah Jaga Stabilitas untuk Lindungi Daya Beli
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) meminta pemerintah menjaga stabilitas situasi ekonomi untuk mencegah pelemahan daya beli masyarakat di tengah tekanan eksternal, mulai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), fluktuasi harga minyak dunia, hingga ketidakpastian global.
Ketua Umum Hippindo, Budihardjo Iduansjah menyatakan, masyarakat cenderung menunda konsumsi ketika muncul ketidakpastian ekonomi maupun berbagai isu yang memicu kekhawatiran.
Baca Juga
Ketum Kadin: Belanja Sektor Kesehatan RI Bernilai Rp 670 Triliun per Tahun, Jadi Magnet Investasi
"Nah, ini daya beli masyarakat itu karena faktornya itu kan pasti sekarang ini terjadi dolar naik, harga minyak naik, terus ada juga program-program stimulus yang belum jalan, ditambah lagi situasi global. Kadang orang tuh nahan beli ya, takut gitu, 'Ada apa nih, ada isu-isu apa nih?'," kata Budihardjo seusai pembukaan Indonesia Shopping Festival 2026 di Jakarta, Jumat (7/8/2026).
Menurut dia, stabilitas situasi menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat agar tetap berbelanja dan mendukung konsumsi rumah tangga.
"Makanya kami selalu statement, ayolah situasi harus dibuat stabil, karena isu aja udah bikin orang menahan beli, 'Ah, ntar aja deh belinya'. Nah, itu orang kalau banyak nabung, nahan beli, karena khawatir. Itu akan mengganggu sektor konsumsi," jelas Budihardjo.
Selain itu, Budihardjo juga mengusulkan adanya fasilitas kredit perbankan dengan bunga 0% untuk mendongkrak konsumsi masyarakat. "Kalau bisa ada kredit bank 0%. Intinya orang itu kan harus yakin ke depan itu gak ada apa-apa, nah itu yang harus kita dorong sama-sama," ungkap dia.
Baca Juga
Festival Belanja Agustus Resmi Digelar, Tebar Diskon hingga 80%!
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 secara tahunan mencapai 5,12%. Produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku (ADHB) tercatat sebesar Rp 6.552,1 triliun, sedangkan PDB atas dasar harga konstan (ADHK) mencapai Rp 3.576,2 triliun.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, M Edy Mahmud menyampaikan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 tetap berada di atas proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan Dana Moneter Internasional (IMF) sebesar 3%. "Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 bila dibandingkan kuartal II-2025 atau secara year on year, tumbuh 5,12%," kata Edy dalam konferensi pers, Rabu (5/8/2026).
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi menjelaskan, pasar sepanjang Jumat ini mengamati kondisi di Timur Tengah. Media Iran melaporkan bahwa Teheran telah menyerang apa yang mereka sebut sebagai "target-target bermusuhan" di Selat Hormuz dan berencana melarang kapal-kapal AS serta Israel melintasi jalur perairan strategis tersebut.

