Kadin: Hilirisasi Tak Lagi Sekadar Jargon, Investasi Mulai Bergeser ke Luar Jawa
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai program hilirisasi yang dijalankan pemerintah telah memasuki fase implementasi dan mulai menunjukkan dampak nyata terhadap perekonomian nasional. Keberhasilan hilirisasi nikel hingga berkembangnya investasi mineral di berbagai daerah dinilai menjadi bukti bahwa kebijakan tersebut tidak lagi sebatas wacana.
Wakil Ketua Umum Bidang Keanggotaan Kadin Widiyanto Saputro mengatakan hilirisasi nikel menjadi salah satu kisah sukses industrialisasi berbasis sumber daya alam (SDA) setelah Indonesia selama puluhan tahun lebih banyak mengekspor komoditas mentah.
"Nilai hilirisasi nikel ini salah satu yang fenomenal setelah berdekade-dekade kita tidak melaksanakan industrialisasi di bidang sumber daya alam. Nilainya mencapai Rp 510 triliun dengan lonjakan sekitar 300%, dari hampir US$ 1 miliar menjadi US$ 3,8 miliar," ujar Widiyanto dalam acara Grand Seminar Mining Nation Revolution, Kamis (6/8/2026).
Baca Juga
Menurut dia, capaian tersebut menunjukkan hilirisasi kini telah berkembang menjadi program nyata yang menghasilkan nilai tambah bagi perekonomian nasional. Pemerintah, kata dia, tidak lagi berhenti pada penyusunan kebijakan, tetapi telah berhasil membawa program tersebut ke tahap eksekusi.
"Hilirisasi hari ini bukan hanya jargon kebijakan, tetapi sudah ada kisah suksesnya. Ini bukan lagi di tataran wacana bagi pemerintah, tetapi sudah masuk di tataran eksekusi," katanya.
Widiyanto menambahkan, pengembangan hilirisasi juga tidak lagi bergantung pada komoditas nikel maupun terpusat di Sulawesi Tenggara. Seiring berkembangnya investasi, pusat pertumbuhan industri pengolahan mineral kini mulai bergeser ke berbagai wilayah lain di Indonesia.
Dia menjelaskan, saat ini produksi industri hilirisasi di Maluku Utara dan Sulawesi Tengah bahkan telah melampaui Sulawesi Tenggara yang sebelumnya menjadi pusat utama pengembangan industri nikel. Selain itu, investasi hilirisasi bauksit di Kalimantan juga menunjukkan pertumbuhan signifikan.
"Investasi hilirisasi bauksit di Kalimantan tumbuh pesat mencapai Rp 53 triliun pada semester I-2026 dan sudah menjadi penopang utama investasi sektor mineral di luar nikel," sebut Widiyanto.
Baca Juga
Hilirisasi Mineral Terhambat, Kepastian Regulasi Jadi Kunci Industri Material Maju
Widiyanto mengungkapkan, pergeseran investasi tersebut tercermin dari realisasi investasi hilirisasi nasional pada semester I-2026 yang mencapai Rp 300,1 triliun. Mayoritas investasi baru disebutnya kini mengalir ke wilayah Maluku Utara, Sulawesi, hingga Nusa Tenggara Barat, bukan lagi terpusat di Pulau Jawa.
Menurut dia, kondisi tersebut menjadi bukti bahwa program hilirisasi mampu menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di luar Jawa sekaligus membuka peluang investasi dan lapangan kerja di daerah yang selama ini belum berkembang optimal.
"Indonesia ini luas. Jangan hanya melihat Jawa. Potensi di luar Jawa sangat besar. Hilirisasi memberikan bukti bahwa pertumbuhan ekonomi di luar Jawa bisa jauh lebih besar dan memiliki prospek pertumbuhan yang sangat menjanjikan," ucap Widiyanto.
