Tiru Model China, Trans-Sumatra Railway Bisa Pangkas Biaya Logistik Jawa-Sumatra
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) menilai rencana pembangunan Trans-Sumatra Railway yang didorong Presiden Prabowo Subianto berpotensi memangkas biaya logistik, terutama jika jalur kereta di Pulau Sumatra dihubungkan dengan Pulau Jawa melalui kapal feri pengangkut kereta api, seperti yang diterapkan di China.
Ketua Umum DPP MTI, Haris Muhammadun menyatakan, konsep tersebut memungkinkan rangkaian kereta api menyeberang menggunakan kapal feri yang telah dilengkapi jalur rel.
"Bayangannya adalah feri yang mengangkut kereta api. Di Guangdong, di China ada, jadi kapal itu ada 1-5 jalur kereta api. Jadi kereta apinya nyebrang, tapi nyebrangnya tempat naik kapal," kata Haris saat ditemui di sela Seminar Nasional MTI di Jakarta, Selasa (4/8/2026).
Baca Juga
MTI Usul Badan Khusus Percepat Transportasi Massal Metropolitan
Haris menjelaskan, usulan tersebut dapat diterapkan karena jalur kereta api di bagian selatan Sumatra, khususnya dari Palembang hingga Bakauheni, telah tersedia. Dengan demikian, distribusi logistik antara Jawa dan Sumatra dinilai dapat lebih mengandalkan angkutan kereta.
"Nah, harapan saya kan logistik, distribusi logistik Jawa-Sumatera, ketika kereta api ini bisa diandalkan, apalagi bisa di-create ton kilometer kereta api itu minimal sama, atau bahkan bisa lebih kecil daripada ton kilometer truk, ODOL selesai," ujar Haris.
Selain itu, Haris mengusulkan pembangunan jalur kereta dari ujung selatan hingga utara Sumatra memanfaatkan koridor di sisi Tol Trans Sumatera sehingga tidak memerlukan pembebasan lahan baru.
"Kemudian perencanaan Tol Trans Sumatera, itu dulu sebelah kiri dan kanannya dikonsepkan untuk kereta api. Saya ingin ingatkan kembali, Pak Presiden ngomong, 'Yuk efisien, enggak usah membebaskan (lahan) lagi, pakai aja pinggir tol.' Cuman lagi-lagi kan masalahnya ego sektoral ini harus kita selesaikan," jelas dia.
Sementara itu, Direktur Jenderal (Dirjen) Integrasi Transportasi dan Multimoda (Intram) Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Risal Wasal menyampaikan, kehadiran Trans-Sumatra Railway berpotensi menciptakan simpul-simpul transportasi baru di Pulau Sumatra.
"Iya, terintegrasi dengan baik. Aman, nyaman, aman posisinya. Iya lah bisa lahir simpul-simpul transportasi baru di Sumatra dengan segala model-modelnya lah," ungkap dia.
Presiden Prabowo sebelumnya meminta PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI bersama Kemenhub menyiapkan proyek pembangunan jalur kereta lintas Sumatra dari Bakauheni, Lampung, Sumatra Selatan hingga Medan, Sumatra Utara.
"Habis ini Trans-Sumatra Railway dari Bandar Lampung, mana titik yang paling selatan? Bakauheni sampai ke titik paling utara, Medan. Bisa KAI? Bisa Menteri Perhubungan? Kita kasih dia tugas harus kasih yang berat, jangan kasih yang ringan-ringan," kata Prabowo beberapa waktu lalu.
Kepala Negara juga berharap setelah proyek Trans-Sumatra Railway berjalan, pembangunan jalur kereta lintas Kalimantan dapat dimulai secara bersamaan.
Konsep feri pengangkut kereta api merujuk pada layanan Yuehai Railway Ferry yang menghubungkan Provinsi Guangdong dengan Pulau Hainan melalui Selat Qiongzhou. Layanan tersebut merupakan bagian dari Yuehai Railway, jalur kereta lintas laut pertama di China.
Baca Juga
MTI: Krisis Energi Jadi Momentum Reformasi Transportasi Nasional
Jalur kereta menuju pelabuhan mulai melayani angkutan barang pada Januari 2002, sementara layanan ferry kereta resmi beroperasi pada 7 Januari 2003, memungkinkan gerbong kereta penumpang maupun barang menyeberang langsung menggunakan kapal tanpa memindahkan muatannya ke moda transportasi lain.
Feri tersebut memiliki beberapa jalur rel di dek kapal sehingga rangkaian kereta dapat naik dan turun langsung melalui rel yang terhubung ke pelabuhan di kedua sisi selat. Saat ini layanan tersebut menjadi penghubung utama jaringan rel antara Guangdong dan Hainan.
