Jelang Rakerkonas, Apindo Beberkan Tekanan Berlapis Dunia Usaha Indonesia
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W Kamdani mengungkapkan, tekanan terhadap dunia usaha kini datang dari berbagai arah sekaligus. Nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp18.200 per US$, dan masih bertahan lebih dari Rp18.000 pada Juli 2026, biaya logistik nasional masih membebani 14,29% dari Produk Domestik Bruto (PDB), di atas rata-rata negara-negara lain di kawasan.
"Ketika seluruh tekanan ini datang bersamaan, perusahaan kehilangan ruang untuk menghadapi kenaikan biaya,” ucap Shinta dalam konferensi Pers Pre-Rakerkonas XXXV di Kantor Apindo, Jakarta Selatan. Selasa (28/7/2026).
Rakerkonas Apindo merupakan ruang bagi pengusaha nasional dan daerah dari 36 provinsi dan 368 kabupaten/kota untuk menyatukan aspirasi dunia usaha daerah menjadi rekomendasi kebijakan yang konkret dan implementatif. Hasil rekomendasi Rakerkonas Apindo akan disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto sebagai masukan strategis dalam memperkuat arah kebijakan ekonomi nasional.
Selain menyoroti hal itu, di level global, Shinta membeberkan pascakonflik geopolitik di Timur Tengah, harga minyak dunia sempat melonjak hingga sekitar US$ 120 per barel, setelah kembali turun ke kisaran US$ 70-80, di akhir Juni kembali ke meningkat ke US$ 100. Namun menurutnya, persoalan utama bagi pelaku usaha bukan semata angka harga minyak, melainkan sulitnya memproyeksikan biaya logistik, distribusi, dan produksi di tengah ketidakpastian yang berlangsung terus-menerus.
Baca Juga
Minta RUU Ketenagakerjaan Buat RI Makin Kompetitif, Apindo: Jangan Kalah Saing di ASEAN
"Hampir semua negara sedang menghadapi tekanan akibat perlambatan ekonomi global, perubahan struktur industri, disrupsi teknologi, hingga restrukturisasi rantai pasok dunia. Yang membedakan setiap negara adalah seberapa cepat kebijakan mampu menjadi bantalan bagi dunia usaha agar tekanan tersebut tidak berkembang menjadi gelombang PHK yang lebih besar,” ujarnya.
Maka dari itu, Apindo mendorong percepatan penyelesaian dan implementasi berbagai perjanjian dagang seperti Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA), Indonesia-Canada CEPA (ICA-CEPA), serta Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA) sebagai jalan memperluas akses pasar, meningkatkan daya saing ekspor, dan memperkuat resiliensi ekonomi nasional.
“Apindo memandang tantangan ekonomi tidak cukup dijawab dengan diagnosis. Dunia usaha membutuhkan kepastian kebijakan, penyelesaian hambatan secara end-to-end, serta kolaborasi yang berorientasi pada implementasi solusi,” terang Shinta.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua Umum APINDO, Sanny Iskandar, memaparkan bahwa sepanjang satu tahun terakhir APINDO menjalankan tujuh program strategis: agenda ketenagakerjaan, advokasi kebijakan, Task Force Debottlenecking Hambatan Berusaha, agenda utilisasi perjanjian perdagangan internasional.
"Rakerkonas bukan forum seremoni, tapi ruang pertanggungjawaban dan penajaman arah kerja ke depan,” imbuh Sanny.
