Danantara Bakal Adopsi Model Dubai untuk Proyek PFII Bali
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) tengah mematangkan rencana besar menyulap Bali seperti Dubai, Uni Emirat Arab. Langkah ini dilakukan melalui pengembangan proyek Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) guna memperkuat daya saing RI di kancah keuangan global.
Dalam pengembangannya, Danantara menjadikan Dubai International Financial Centre (DIFC) sebagai rujukan utama.
Menurut COO Danantara sekaligus Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN, Dony Oskaria, DIFC sukses bertransformasi menjadi 'Wall Street; kawasan Timur Tengah, Afrika, dan Asia Selatan (MEASA) dengan daya tarik insentif pajak korporasi 0 persen selama 40 tahun serta menampung 50.000 profesional.
"PFII bukan sekadar membangun kawasan keuangan, tetapi juga membangun kepercayaan dunia terhadap Indonesia. Dengan ekosistem yang kompetitif dan berstandar global, kami ingin menghadirkan lebih banyak investasi yang memberikan dampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi nasional," kata Dony Oskaria dalam keterangan tertulisnya, Selasa (14/7/2026).
Persiapan proyek strategis tersebut dibahas dalam rapat koordinasi yang dipimpin langsung oleh Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, bersama Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, serta jajaran direksi di Jakarta, Selasa (14/7/2026).
Dony menjelaskan, rapat intensif tersebut memfokuskan pembahasan pada formulasi strategi investasi serta pembangunan ekosistem keuangan berstandar internasional. Selain itu, Danantara juga mengkaji optimalisasi perannya dalam mendukung pengembangan aset, penyediaan infrastruktur, dan pemenuhan layanan pendukung di PFII Bali.
Melalui adopsi praktik terbaik dari Dubai, PFII di Bali ditargetkan mampu menjadi magnet baru bagi investasi internasional.
Baca Juga
Pemerintah Tak Masalahkan Jika Indonesia Disebut Surga Pajak Usai PFII Dibentuk
"Pemerintah optimistis kehadiran pusat keuangan ini dapat memperdalam pasar keuangan domestik, memperluas akses pembiayaan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan," tutur Dony.
Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto sebelumnya menyebut pemerintah tengah mempersiapkan peraturan pemerintah atau PP mengenai lokasi Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII). Dia kembali menyebut PFII akan dibentuk di Bali.
“Pusat finansial lagi dibahas di DPR, mudah-mudahan ini bisa diselesaikan. Secara paralel kita siapkan PP untuk wilayahnya, yang akan di Bali,” kata Airlangga di kantornya, Jakarta, Jumat (10/7/2026).
Airlangga mengatakan penempatan PFII memiliki sejumlah alasan. Meskipun ada beberapa pihak yang menyarankan penempatan PFII berlokasi di Batam atau Jakarta.
Menurut Airlangga, penempatan pusat finansial juga perlu mempertimbangkan tentang gaya hidup.
“Dan lifestyle relatif tidak terlalu sibuk atau padat (ada di Bali). Jadi, kita menawarkan seperti di Dubai, kan di daerah tertentunya,” ujar dia.
Airlangga menjelaskan Bali merupakan salah satu tempat yang memiliki fasilitas kesehatan kelas premium yang berlokasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur. Meski demikian, Airlangga tak menyebut PFII akan berada di dalam kawasan KEK Sanur.
